Pemprov DKI Jakarta mendorong pemusnahan ikan sapu-sapu. Ikan ini memang tetap dikonsumsi di tempat asalnya di Amazon, tapi beda kondisinya di Jakarta.
Ikan sapu-sapu terdiri dari beberapa spesies, misalnya saja Hypostomus plecostomus alias nama komersilnya sebagai ikan hias di luar negeri adalah ikan pleco, nama lokal di Amazon adalah ikan Acari. Ada juga jenis Psendorinelepis genibarbis alias nama lokalnya di Amazon adalah ikan Carachama.
Ikan-ikan ini dari famili Loricariidae dengan karakter bentuk nan mirip berupa sisik perisai dan mulut penghisap. Ikan pemakan alga ini memang aslinya dari Amerika Selatan, terutama di Brasil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat aslinya, ikan sapu-sapu tetap dikonsumsi oleh masyarakat tepi sungai di Amazon. Hal ini termuat dalam banyak laporan ilmiah dan penelitian lingkungan di Amazon. Diketahui, masyarakat sungai di Amazon mengkonsumsi ikan 462 gram per orang per hari. Ini 20 kali lebih banyak dari rata-rata masyarakat Brasil.
Dilansir dari Phys.org, Senin (20/4/2026) ada 6 ikan dalam rantai makanan di Sungai Amazon nan juga dikonsumsi manusia. nan pertama ada ikan sapu-sapu alias Acari nan merupakan bottom feeder alias pencari makan di dasar sungai, Acari dimakan ikan Aracu nan omnivora. Aracu lampau dimakan ikan Piranha, lampau dimakan lagi oleh Piracuru. Piracuru dimakan ikan besar Caparari. Caparari dimakan ikan nan paling besar Tucunare. Tucunare di bumi dikenal sebagai ikan Araipama gigas, ikan raksasa Amazon nan terkenal.
Enam jenis ikan ini dikonsumsi masyarakat di Amazon, misalnya di wilayah Para di Brasil mencakup area Faro, Juruti, Santarém, Porto Trombetas dan Itaituba. Bedanya dengan kondisi di Indonesia adalah, ekosistem alam di sana tetap relatif bersih.
Slow Food Foundation for Biodiversity menjelaskan ikan sapu-sapu Carachama dimakan di Brasil dan Peru. Ikan ini hidup di wilayah nan tetap kaya vegetasi dan sisa pembusukan organik, bukan kimiawi.
Ikan sapu-sapu di Amazon dimasak menjadi sup ikan Chilcano de Pescado, di Peru ada sop ikan sapu-sapu Timbuche. Ikan ini juga dibakar dalam balut daun dan dibumbui seperti pepes nan dinamakan Patarascha.
Namun intelektual sekarang mulai mewanti-wanti. Jurnal nan terbit di ACS Omega Volume 11 Issue 7 Tahun 2026 mencatat bahwa pencemaran lingkungan di Amazon menyebabkan ikan sapu-sapu menyimpan bahan rawan di tubuhnya. Di Amazon, ikan sapu-sapu mulai tercemar logam berat seperti mercuri, cadmium, arsenik dan timbal.
Jika ikan sapu-sapu hidup di sungai nan kotor apa lagi tercemar, ikan itu bakal membawa unsur rawan di dalam tubuhnya nan membuatnya menjadi tidak kondusif di konsumsi. Di Amazon saja, pencemaran sungai berpotensi menakut-nakuti ikan sapu-sapu jadi tidak bisa dikonsumsi.
Pindah ke Jakarta, ikan sapu-sapu hidup di sungai nan kotor dan berpotensi tercemar. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menerangkan kadar logam pada ikan sapu-sapu berlebihan.
"Untuk dimanfaatkan belum bisa, sebelum ada kajian resmi nan menyatakan bahwa ikan tersebut kondusif untuk dikonsumsi alias dijadikan pakan ternak. Karena residu logam berat di atas periode batas," ujar Hasudungan, Sabtu (18/4).
Sebelumnya, sekitar 6,98 ton ikan sapu-sapu ditangkap di beragam letak di Jakarta per Jumat (17/4) lantaran dinilai invasif. Setelah operasi penangkapan serentak itu, sekitar 68.880 ekor ikan sapu-sapu kemudian dibelah dan dikubur di titik-titik dekat pintu air.
(fay/fyk)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·