Jakarta -
Produsen otomotif ternama asal Jepang, Honda pertama kalinya dalam 70 tahun terakhir mencatatkan kerugian untuk tahun fiskal 2025. Kondisi ini dikarenakan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nan melonggarkan patokan emisi kendaraan.
Dikutip dari CNN, Sabtu (16/5/2026), pada awalnya banyak perusahaan otomotif di AS nan melakukan investasi besar-besaran untuk mengembangkan kendaraan listrik alias electric vehicle (EV).
Langkah ini dilakukan seiring pengetatan patokan emisi karbon kendaraan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Bersamaan dengan itu, pemerintah AS juga sempat memberikan angsuran pajak hingga US$ 7.500 alias Rp 131.970.000 (kurs Rp 17.596) untuk pembeli kendaraan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump Batalkan Aturan
Pemerintahan Trump malah membatalkan peraturan emisi nan lebih ketat nan diberlakukan oleh pemerintahan Biden dan menghapus hukuman finansial bagi produsen mobil jika mereka melanggar kebijakan tersebut.
Alhasil, perubahan kebijakan tersebut membikin para produsen mobil termasuk Honda kembali memfokuskan perhatian mereka pada penjualan truk dan SUV besar berkekuatan bensin, nan merupakan sumber untung terbesar mereka.
Masalahnya, di saat nan berbarengan pergeseran ini merugikan para produsen mobil nan sudah mengeluarkan modal besar untuk mengembangkan EV, dan sekarang terpaksa kembali menurunkan total nilai investasi kendaraan ramah lingkungan.
Honda Rugi
Sebagai salah satu korban perubahan kebijakan emisi karbon kendaraan, Honda untuk pertama kalinya sejak 1955 melaporkan kerugian untung sebesar 1,6 triliun yen alias nyaris US$ 10 miliar (Rp 175,96 triliun) untuk tahun fiskal 2025.
Bersamaan dengan itu Honda juga mencatatkan potensi untung sebesar US$ 7,4 miliar untuk tahun tersebut, sehingga perusahaan mencatatkan kerugian bersih sebesar 403,3 miliar yen alias sekitar US$ 2,6 miliar (Rp 45,74 triliun).
"Honda juga mengindikasikan bahwa mereka memperkirakan ada penurunan nilai tambahan pada investasi kendaraan listrik sebelumnya di tahun fiskal berjalan, meskipun tidak cukup untuk menyebabkan kerugian lagi," jelas laporan tersebut.
Produsen Otomotif AS Banyak nan Rugi
Selain Honda, General Motors (GM) juga mencatatkan kerugian nan cukup besar sepanjang tahun 2025. Produsen otomotif ternama asal AS itu melaporkan kerugian sebesar US$ 7,2 miliar lantaran pengurangan upaya pengembangan kendaraan listrik.
Masih belum cukup, produsen otomotif ternama lain seperti Ford mengumumkan kerugian US$ 17,4 miliar untuk periode nan sama. Kemudian Stellantis nan memproduksi mobil di Amerika Utara dengan merek Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler, melaporkan kerugian sebesar 25,4 miliar euro alias US$ 29,7 miliar.
Dengan kerugian nan dideritanya, beruntung GM tetap bisa mencatatkan untung bersih untuk periode tersebut. Namun, imbas perubahan kebijakan emisi pada pemerintahan Trump telah menyebabkan Ford dan Stellantis mencatatkan kerugian bersih pada 2025.
"Namun, para produsen mobil belum sepenuhnya meninggalkan rencana kendaraan listrik. Masih ada peraturan emisi nan lebih ketat nan bakal diberlakukan di Eropa dan Asia, dan mungkin di sejumlah negara bagian AS," terang laporan tersebut.
(igo/ara)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·