Jakarta -
Regulasi baterai Uni Eropa (UE) nan pertama kali diumumkan pada 2023 kembali jadi sorotan menjelang tenggat penerapan pada 18 Februari 2027. Di media sosial dan forum teknologi, ramai beredar klaim bahwa produsen seperti Samsung dan Google bakal dipaksa mengubah kreasi ponsel agar baterainya bisa dilepas hanya dengan tangan.
Narasi ini mengingatkan pada ponsel era lama dengan penutup belakang nan mudah dibuka. Namun, jika ditelusuri dari patokan resminya, klaim tersebut tidak sepenuhnya benar.
Regulasi nan dimaksud adalah EU Battery Regulation 2023/1542. Aturan ini memang mendorong perubahan besar dalam industri, tapi bukan berfaedah semua ponsel kudu kembali ke kreasi baterai copot tanpa alat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari 9to5Google, inti dari izin ini adalah konsep design for repair alias kemudahan perbaikan. Uni Eropa mau baterai lebih mudah diganti agar perangkat lebih awet dan tidak sigap menjadi limbah elektronik.
Dalam patokan tersebut, baterai dianggap "mudah dilepas" jika bisa diganti menggunakan perangkat nan tersedia secara umum, seperti obeng, tanpa perangkat khusus, tanpa pemanasan, dan tanpa bahan kimia.
Di sinilah sering terjadi salah kaprah. "Mudah dilepas" bukan berfaedah kudu bisa dicopot dengan tangan kosong. Selama pengguna alias teknisi bisa menggantinya dengan perangkat umum, perangkat tetap memenuhi kriteria.
Masalahnya, sebagian besar ponsel modern-terutama flagship seperti seri Galaxy dan Pixel-menggunakan kreasi unibody dengan perekat kuat demi ketahanan air. Untuk membukanya, biasanya diperlukan pemanasan agar lem melunak.
Karena itu, secara teknis banyak ponsel saat ini belum memenuhi arti "mudah dilepas" jenis UE.
Namun, izin ini tidak berakhir di situ.
Uni Eropa memberikan celah melalui patokan tambahan (terkait Ecodesign) nan memungkinkan produsen tetap mempertahankan kreasi unibody.
Syaratnya:
- Baterai kudu mempertahankan minimal 80% kapabilitas setelah 1.000 siklus pengisian
- Perangkat mempunyai ketahanan air minimal IP67
Jika dua syarat ini terpenuhi, maka ponsel tidak wajib mempunyai baterai nan bisa dilepas langsung oleh pengguna.
Artinya, kreasi premium dengan bodi rapat dan tahan air tetap bisa dipertahankan.
Faktanya, banyak vendor sudah mengarah ke standar ini.
Google sejak lini Pixel terbaru menjanjikan daya tahan baterai hingga 1.000 siklus. Apple juga menerapkan standar serupa pada iPhone modern. Sementara Samsung apalagi menyatakan beberapa perangkatnya bisa melampaui nomor tersebut.
Dengan kondisi ini, ponsel flagship masa depan-seperti Galaxy S series alias Pixel generasi berikutnya-kemungkinan besar tetap mempertahankan kreasi seperti sekarang.
Alih-alih memaksa flagship berubah, izin ini justru bakal memberi tekanan pada ponsel kelas menengah dan entry-level.
Jika perangkat tidak memenuhi standar daya tahan baterai dan ketahanan air, produsen kudu membikin kreasi nan memungkinkan baterai diganti lebih mudah tanpa panas alias bahan kimia.
Dengan kata lain, izin ini mendorong seluruh industri untuk "naik kelas".
Bagi pengguna, patokan ini membawa sejumlah akibat positif. Ponsel di masa depan diprediksi bakal lebih awet, baterai lebih tahan lama, dan proses perbaikan menjadi lebih mudah.
Di sisi lain, produsen dituntut untuk berinvestasi pada teknologi baterai nan lebih canggih, bukan sekadar mengejar kreasi tipis alias estetika.
(afr/afr)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·