CNN Indonesia
Rabu, 01 Apr 2026 23:00 WIB
Ilustrasi. Mendengarkan musik rupanya bisa memicu kecemasan. (Leeroy/Life of Pix)
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa lagu rupanya dapat memicu rasa cemas pada sebagian orang, meski bagi pendengar lain lagu nan sama justru terasa menenangkan.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Musik diketahui mempunyai pengaruh kuat terhadap otak, hormon, hingga memori emosional, sehingga respons setiap orang bisa sangat berbeda.
Melansir Cleveland Clinic, master bedah saraf endovaskular Farah Fourcand menjelaskan bahwa musik bisa memengaruhi kesehatan bentuk dan mental, termasuk ingatan, emosi, serta pola pikir seseorang. Dalam kondisi tertentu, irama, tempo, alias apalagi lirik lagu dapat memicu respons emosional negatif seperti kecemasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa aliran musik, lirik tertentu, alias tempo nan terlalu sigap disebut lebih berpotensi memperburuk indikasi kekhawatiran dan depresi. Tak heran jika lagu nan terkenal dan disukai banyak orang justru terasa mengganggu bagi sebagian lainnya.
Sumber lain, Mental Mantras, menyebut bahwa lagu nan pernah dikaitkan dengan pengalaman traumatis alias momen negatif dapat membangkitkan kembali kenangan emosional nan tidak nyaman. Musik bekerja erat dengan memori, sehingga satu nada saja bisa membawa seseorang kembali ke situasi tertentu di masa lalu.
Respons emosional terhadap musik memang kompleks. Melodi, ritme, dan harmoni dapat memicu beragam emosi melalui pola dan strukturnya.
Saat mendengarkan musik, otak melepaskan neurotransmiter seperti dopamin nan berkedudukan besar dalam mengatur suasana hati.
Berikut beberapa argumen kenapa lagu tertentu bisa menjadi pemicu kecemasan:
1. Stimulasi berlebihan pada amigdala
Menurut Farah, musik dapat menstimulasi amigdala, bagian otak nan berkedudukan dalam mengatur emosi dan rasa takut, serta area nan berangkaian dengan pengambilan keputusan dan kontrol diri.
Ritme nan terlalu cepat, tidak harmonis, alias perubahan nada nan mendadak bisa membikin otak bereaksi berlebihan, seolah menghadapi ancaman, sehingga memicu rasa tegang dan takut.
2. Membangkitkan memori traumatis
Otak menghubungkan musik dengan pengalaman masa lampau melalui sistem limbik. Lagu nan pernah diputar saat seseorang mengalami stres alias trauma dapat memunculkan kembali memori tersebut, komplit dengan emosi negatif nan menyertainya.
3. Efek overstimulasi saraf
Musik nan terlalu keras, kompleks, alias penuh lapisan bunyi dapat menyebabkan sistem saraf bekerja terlalu keras alias mengalami overstimulasi. Orang dengan ADHD alias sensitivitas tinggi terhadap bunyi condong lebih rentan mengalami kekhawatiran akibat kondisi ini.
4. Memicu kebiasaan merenung berlebihan
Mengutip Manning Family Children, musik tertentu dapat mendorong perilaku merenung berlebihan terhadap hal-hal negatif. Lirik alias melodi nan melankolis bisa membikin seseorang terjebak dalam pikiran buruk, nan jika berjalan lama dapat memperparah indikasi kekhawatiran dan depresi.
Meski demikian, musik juga dikenal mempunyai pengaruh terapeutik. Lagu dengan tempo lambat, harmoni nan lembut, dan melodi menenangkan dapat membantu menurunkan hormon stres kortisol, memperlambat debar jantung, serta menciptakan rasa rileks.
Karena itu, krusial untuk mengenali respons tubuh dan emosi saat mendengarkan musik. Lagu nan menenangkan bagi satu orang belum tentu memberikan pengaruh serupa bagi orang lain.
Menyesuaikan pilihan musik dengan kondisi dan preferensi pribadi menjadi kunci agar musik tetap memberi faedah tanpa memicu kecemasan.
Dengan memahami langkah tubuh merespons musik, pendengar dapat lebih bijak memilih lagu nan menenangkan sekaligus menghindari musik nan berisiko memicu stres.
(nga/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·