Harga Telur Di Kotim Turun Rp50 Ribu Per Ikat, Peternak Dan Pegangan Mengeluh Margin Tergerus

Sedang Trending 1 jam yang lalu

SAMPIT – Tidak hanya komoditas kelapa sawit nan mengalami penurunan harga, nilai telur ayam ras di Sampit, Kabupaten (Kotim), juga ikut merosot dalam beberapa waktu terakhir.

Dampak dari penurunan nilai dirasakan para peternak ayam petelur nan membikin margin untung mereka tergerus lantaran biaya pakan tetap mahal.

Salah seorang peternak telur di Sampit mengungkapkan, Ady Candra membenarkan adanya penurunan nilai telur saat ini, nan mana berkisar Rp50 ribu per ikat dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya satu ikat telur dijual sekitar Rp340 ribu, sekarang hanya berkisar Rp290 ribu per ikat.

“Turunnya sekitar Rp50 ribu per ikat. Dulu nilai tetap sekitar Rp340 ribu, sekarang sekitar Rp290 ribu,” ujarnya, Senin 25 Mei 2026.

Diketahui bawah satu ikat telur berisi enam sap alias sekitar 180 butir telur. Dengan penurunan Rp50 ribu per ikat tersebut, maka nilai telur mengalami penurunan sekitar Rp278 per butir.

Kondisi ini dikeluhkan oleh peternak maupun pedagang. Pasalnya, biaya operasional seperti pakan ternak dan kebutuhan produksi lainnya tidak mengalami penurunan, apalagi condong meningkat.

Ady menegaskan peternak ayam petelur Kotim berencana mengusulkan rapat dengar pendapat (RDP) berbareng DPRD Kotim. Dalam forum tersebut, peternak berambisi DPRD dapat memanggil para pemasok besar nan mendatangkan telur dari Pulau Jawa ke Kotim.

“Kami bakal mengusulkan RDP peternak ayam petelur Kotim dengan DPRD. Kami berambisi DPRD memanggil pemasok besar nan mendatangkan telur dari Jawa,” ujarnya.

Distributor luar ini sangat berpengaruh terhadap nilai telur di Kotim dan dampaknya dirasakan peternak lokal.

Ady menilai perlu adanya komunikasi antara peternak lokal, distributor, dan pemerintah wilayah agar nilai telur tetap stabil. Dengan demikian, peternak tidak terbebani oleh rendahnya nilai jual, sementara masyarakat juga tetap mendapatkan nilai nan wajar.

“Kami berambisi ada solusi nan baik. Distributor besar dari Jawa juga bisa menyesuaikan dengan kondisi nilai pakan. Peternak tidak berat, masyarakat juga tidak berat,” pungkasnya. (Nardi)

Sumber info-lokal