Jakarta -
PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan nilai satuan tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak bakal naik di tengah bentrok Timur Tengah. Untuk diketahui, bentrok tersebut memicu penutupan jalur pengedaran internasional Selat Hormuz, salah satunya untuk kebutuhan pupuk global.
Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi dalam RDP dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (2/4/2026) lalu.
"Insyaallah pupuk bakal aman, HET sudah turun 20%, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET bakal tetap. Dan kebutuhan pupuk urea baik untuk subsidi pun non-subsidi di Indonesia, kami dapat yakinkan bisa terselenggara dengan baik," kata dia dikutip, Sabtu (4/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkap memang 30% perdagangan pupuk bumi melewati selat tersebut nan secara volume mencapai sekitar 4 juta ton per bulan. Rinciannya terdiri dari 1,5 juta ton urea, 1,5 juta ton sulfur, serta 1 juta ton pupuk lainnya termasuk metanol.
Rahmad menyebut, imbas penutupan tersebut terjadi kenaikan nilai terjadi pada pupuk urea. Menurutnya nilai pupuk urea naik dua kali lipat dari sebelumnya sekitar US$ 400 per ton menjadi US$ 800 per ton.
Meski begitu, dia menjamin kenaikan nilai ini tidak bakal berpengaruh besar di Indonesia. Hal ini lantaran produksi dalam negeri sudah mencukupi nan mencapai 8,8 juta ton.
"Sehingga meskipun terjadi gejolak nilai urea nan meningkat sebelum perang itu US$ 400 dan sekarang sudah mencapai US$ 800 alias dua kali lipat, tapi kami bisa meyakinkan di depan Bapak-Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi XI, insyaallah untuk Indonesia aman, lantaran ureanya diproduksi dalam negeri," ujarnya
Bahkan kata Rahmad, Indonesia bisa menjadi penyelamat ekosistem pangan bumi khususnya untuk pupuk. Hal ini lantaran produksi pupuk di Indonesia tidak terganggu.
"Bahkan hari ini Indonesia bisa menjadi stabilizer alias apalagi penyelamat ekosistem pangan dunia. Kalau intuitif, biasanya Indonesia situasinya rentan jika terjadi kejolak dunia, unik mengenai pupuk, kembali lagi saya menegaskan, unik mengenai pupuk kita tidak terjadi gangguan khususnya kecukupan pupuk urea nan memang terganggu Hormuz," terangnya.
Sementara itu, untuk jenis pupuk lain seperti fosfat dan potas, Rahmad mengatakan akibat nan dirasakan lebih kepada potensi kenaikan biaya logistik akibat kondisi geopolitik, bukan gangguan produksi global.
(ada/ara)
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·