Harga Minyak Dunia Anjlok Ke Level Terendah Sejak Maret

Sedang Trending 13 jam yang lalu

Jakarta -

Harga minyak bumi kembali ambruk sekitar 5% pada Selasa dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan ini terjadi setelah kesepakatan tenteram Amerika Serikat (AS) dan Iran dan pembukaan Selat Hormuz.

Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar global. Minyak mentah Brent turun US$ 4,21 alias 5,1% menjadi US$ 78,96 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,70 alias 5,8% menjadi US$ 76,05 per barel.

Penutupan tersebut menjadi nan terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret. Sebagai perbandingan, sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari, nilai Brent ditutup di level US$ 72,48 per barel dan WTI berada di US$ 67,02 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harga minyak mentah turun sigap lantaran pasar berasumsi Selat Hormuz bakal segera dibuka kembali," kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, dikutip dari Reuters, Rabu (17/6/2026),.

Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak bumi melewati Selat Hormuz. Rincian kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang AS-Iran mulai terungkap pada Selasa.

Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian tersebut bakal memastikan Iran tidak dapat mempunyai senjata nuklir. Seorang pejabat AS juga menyebut Iran bakal diizinkan kembali menjual minyak setelah kesepakatan ditandatangani.

Kesepakatan itu bakal memperpanjang gencatan senjata nan diumumkan pada April selama 60 hari lagi serta membuka kembali Selat Hormuz nan selama ini diblokir Iran sejak sejak diserang AS dan Israel.

Meski demikian, sejumlah pihak tetap meragukan penerapan kesepakatan tersebut. Para mahir memperingatkan bahwa pemulihan aktivitas pelayaran dan ekspor daya kemungkinan memerlukan waktu beberapa pekan.

Di Lebanon, golongan Hizbullah nan didukung Iran menyatakan Teheran kemungkinan tidak bakal menandatangani kesepakatan nuklir final jika Israel belum menarik pasukannya dari Lebanon.

Selain perkembangan di Timur Tengah, nilai minyak juga tertekan oleh kekhawatiran terhadap ekonomi China, kenaikan inflasi global, suku kembang nan lebih tinggi, serta dorongan AS untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina.

Trump juga mengatakan Rusia kudu berbaikan dengan Ukraina setelah pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Pernyataan tersebut memunculkan optimisme hati-hati di kalangan pemimpin G7 bahwa kesepakatan tenteram tetap mungkin tercapai.

Jika perang Ukraina berakhir, sebagian hukuman terhadap Rusia berpotensi dicabut sehingga ekspor minyak negara tersebut dapat meningkat. Berdasarkan info daya AS, Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di bumi pada 2025 setelah AS dan Arab Saudi.

(ily/ara)

Sumber finance