Kebun Sawit Milik Negara Dijarah, Rugi Tembus Miliaran

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Hasil kebun sawit milik negara nan dikelola oleh PT PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) di wilayah Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, dijarah. Dalam beberapa bulan terakhir, hilangnya tandan buah segar (TBS) akibat aktivitas penjarahan nan diduga dilakukan secara terorganisir telah menyebabkan kerugian mencapai miliaran rupiah dan berakibat langsung terhadap keberlangsungan operasional perkebunan.

Kepala Sub Bagian Kesekretariatan dan Humas Abdul Chalid membenarkan tindakan penjarahan tersebut. Ia menyampaikan manajemen sangat prihatin terhadap akibat nan ditimbulkan akibat tindakan penjarahan tersebut.

"Memang betul tindakan penjarahan di Kebun Cot Girek telah berakibat signifikan terhadap pendapatan perusahaan sebagai perusahaan negara dan juga masyarakat setempat nan menjadi petani sawit sekaligus pekerja kebun. Kami cukup prihatin atas kondisi tersebut dan berambisi persoalan ini dapat segera diselesaikan sehingga produktivitas kebun kembali pulih dan kesejahteraan masyarakat dapat terjaga," ujar Abdul dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (17/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak perusahaan menegaskan penyelesaian persoalan ini kudu dilakukan melalui sistem norma nan bertindak dengan tetap mengedepankan stabilitas sosial dan kondusifitas masyarakat. Perusahaan juga menyatakan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan abdi negara penegak hukum, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan guna mencari solusi nan berkelanjutan.

Penguatan penegakan norma dinilai menjadi aspek krusial untuk menghentikan praktik penjarahan nan merugikan negara dan masyarakat. Selain menjaga aset negara, langkah tersebut juga diperlukan untuk memberikan kepastian bagi ribuan pekerja dan family nan menggantungkan kehidupan mereka pada keberlangsungan upaya perkebunan.

Lebih lanjut, tindakan penjarahan tersebut tidak hanya menggerus produksi perusahaan, tetapi juga memukul kesejahteraan ribuan pekerja dan family petani sawit nan menggantungkan hidup dari aktivitas perkebunan negara. Hingga kini, kondisi keamanan di sejumlah areal kebun tetap menjadi tantangan lantaran pelaku penjarahan disebut tetap berkeliaran di lapangan.

Tidak hanya kehilangan hasil panen, perusahaan juga menghadapi halangan dalam menjaga produktivitas areal akibat meningkatnya akibat keamanan bagi pekerja di lapangan. Situasi ini membikin upaya pemulihan produksi melangkah lebih lambat lantaran sebagian sumber daya kudu dialihkan untuk pengamanan aset perkebunan.

Dari sisi ekonomi, akibat nan ditimbulkan tidak dapat dianggap remeh. Kehilangan TBS dalam jumlah besar berakibat pada menurunnya pendapatan perusahaan, berkurangnya kontribusi terhadap penerimaan negara, serta terganggunya sasaran produksi nan telah ditetapkan.

Sebagai salah satu aset strategis negara, keberlangsungan operasional perkebunan sawit mempunyai peran krusial dalam mendukung perekonomian wilayah dan menciptakan pengaruh berganda bagi masyarakat sekitar.

Bersambung ke laman berikutnya. Langsung klik

Di kembali nomor kerugian tersebut, terdapat akibat sosial nan dirasakan langsung oleh para pekerja. Menurunnya produksi menyebabkan berkurangnya premi dan insentif nan selama ini menjadi komponen krusial pendapatan pekerja kebun. Kondisi ini membikin daya beli family pekerja ikut tertekan, terutama bagi mereka nan menggantungkan sebagian besar penghasilannya pada keahlian produksi kebun.

Salah seorang tenaga kerja Kebun Cot Girek, M. Yusuf, mengaku merasakan langsung akibat menurunnya produksi akibat maraknya penjarahan hasil kebun. Menurutnya, berkurangnya hasil panen tidak hanya mempengaruhi kondisi finansial perusahaan, tetapi juga berakibat pada pendapatan para pekerja nan selama ini menggantungkan sebagian penghasilannya dari premi dan insentif produksi.

"Kami nan bekerja di kebun sangat merasakan dampaknya. Ketika produksi turun lantaran buah banyak lenyap di lapangan, perusahaan tentu kehilangan pendapatan. Akibatnya, premi nan biasanya menjadi tambahan penghasilan bagi tenaga kerja juga ikut berkurang. Bagi kami nan mempunyai family untuk dinafkahi, kondisi ini cukup berat lantaran kebutuhan hidup terus melangkah sementara pendapatan tidak lagi seperti sebelumnya," ujar Yusuf.

Ia berambisi seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga aset perkebunan negara agar produksi kembali normal dan kesejahteraan pekerja dapat pulih.

"Kami hanya mau bekerja dengan tenang dan hasil kebun bisa dinikmati sebagaimana mestinya untuk kepentingan perusahaan, pekerja, dan masyarakat sekitar. Kalau kondisi ini terus berlangsung, nan paling merasakan dampaknya bukan hanya perusahaan, tetapi juga keluarga-keluarga tenaga kerja nan hidup dari sektor perkebunan," terangnya.

(hns/hns)

Sumber finance