Harga Flashdisk Dan Kartu Memori Meroket Akibat Tren Ai

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Berdasarkan temuan terbaru dari Tom's Hardware nan merujuk pada investigasi PCWorld, nilai kartu memori dan flashdisk (USB drive) tercatat melonjak dengan rata-rata 123 persen dibandingkan tahun lalu.

Angka tersebut apalagi baru nilai tengahnya saja. Dalam salah satu contoh kasus ekstrem, nilai kartu memori Lexar Blue microSDXC UHS-I berkapasitas 256GB dilaporkan meroket gila-gilaan hingga menyentuh nomor 261 persen secara tahunan.

Laporan tersebut apalagi tidak menemukan satu pun contoh kasus di mana nilai produk memori tetap stabil alias mengalami penurunan. Dalam setiap sampel nan diteliti, diagram harganya selalu menunjukkan kenaikan tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini bisa terjadi lantaran kartu memori dan flashdisk tetap menggunakan chip NAND nan dibuat dari wafer pada jalur produksi nan sama dengan cip untuk kebutuhan SSD. Perbedaan peruntukannya biasanya hanya terletak pada penggolongan kelas kualitas cipnya saja.

Masalahnya, para pengguna pusat info AI saat ini bersedia bayar sangat mahal demi mendapatkan chip NAND berbobot tinggi. Pabrikan tentu saja dengan senang hati memprioritaskan pesanan raksasa tersebut dan mengoptimalkan jalur produksi mereka.

Imbasnya, pasokan chip NAND kelas bawah nan biasanya digunakan untuk pembuatan kartu memori dan USB drive menjadi sangat terbatas di pasaran. Situasi mencekik ini pada akhirnya memaksa beberapa merek besar untuk lebih konsentrasi pada lini produk premium.

Awal bulan ini saja, SanDisk nekat merilis kartu SD berkapasitas 2TB nan dibanderol dengan nilai mencengangkan, ialah USD 2.000 alias sekitar Rp 32 juta. Angka selangit itu apalagi sudah termasuk potongan potongan nilai sebesar USD 500 (sekitar Rp 8 juta).

Beruntungnya, krisis pasokan ini diprediksi tidak bakal memperkuat selamanya dan nilai bakal kembali normal suatu saat nanti. Namun pertanyaan terbesarnya, kapan perihal tersebut bakal betul-betul terjadi?

Sebagian pengamat meyakini situasi nilai selangit ini bisa berjalan cukup lama hingga tahun 2027 mendatang. Sementara itu pihak lain menunjuk pada penurunan nilai RAM DDR5 baru-baru ini sebagai bukti bahwa koreksi nilai pasar sebenarnya sudah mulai berjalan, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (20/4/2026).


(asj/asj)


Sumber detik-inet