Jakarta, CNN Indonesia --
Perang nilai mobil asal China nan terus memanas telah mendapat perhatian unik dari pemerintah China. Hampir seluruh merek melakukan strategi banting harga, termasuk sekarang oleh pabrikan BYD.
Melansir Carscoops, selama nyaris dua tahun industri otomotif China menunggu perang nilai mereda dengan sendirinya. Namun, perihal itu rupanya tak kunjung terjadi, malah para produsen mobil tidak menunjukkan tanda-tanda bakal menghentikan tindakan mereka.
Kini, di tengah penurunan pasar domestik China, BYD menerapkan pemangkasan nilai nan signifikan, diikuti oleh rival utama seperti Geely dan Chery.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hampir setahun lalu, otoritas China sempat mengumpulkan belasan ketua produsen mobil dan mendesak mereka menghentikan perang nilai sebelum berubah menjadi persaingan nan merugikan semua pihak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Regulator pasar China apalagi menyerukan upaya untuk menertibkan secara menyeluruh kejuaraan "involusioner" istilah nan digunakan Perdana Menteri Li Qiang untuk menggambarkan perilaku industri nan semakin kontraproduktif.
Namun tampaknya tidak banyak nan berubah. Data dari Bloomberg menunjukkan rata-rata pemotongan nilai pada model BYD meningkat hingga 10 persen pada Maret. Sementara itu, Geely dan Chery menawarkan potongan nilai sekitar 15 persen, nan relatif stabil selama 12 bulan terakhir.
Akar masalah dari kasus ini kapabilitas produksi pada sektor otomotif China nan berlebihan.
Pada tahun lalu, sekitar 23 juta kendaraan baru terjual, sementara kapabilitas produksi pabrik mencapai 55,5 juta unit per tahun.
Kondisi ini mendorong banyak merek lokal untuk meningkatkan ekspor kendaraan. Bahkan, bulan lampau ekspor mobil listrik dari China tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat.
Kini, di bawah pengawasan regulator nan lebih ketat, perusahaan otomotif termasuk BYD dipaksa bayar pemasok jauh lebih sigap dibanding sebelumnya. Sebelum ada intervensi pemerintah, produsen mobil kerap menunda pembayaran tagihan selama berbulan-bulan, sehingga bisa memberikan potongan nilai besar untuk mendorong penjualan.
Sekarang, tagihan kudu dibayar lebih cepat, nan meningkatkan beban tanggungjawab di neraca perusahaan. Bagi BYD, perihal ini mendorong rasio utang terhadap ekuitasnya naik menjadi 25 persen.
"Kelihatannya ini menguntungkan konsumen, tapi sebenarnya tidak, produsen justru merugi, merugikan seluruh ekosistem industri," ujar Sekretaris Jenderal Organisasi Internasional Produsen Kendaraan Bermotor (OICA) François Roudier.
(ryh/mik)
Add
as a preferred source on Google
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·