Jakarta -
Tren teknologi smartphone nan dapat terhubung langsung ke satelit alias direct-to-device (D2D) mulai menjadi perbincangan global. Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menilai perkembangan ini sebagai kesempatan besar bagi industri nasional, meski di sisi lain dihadapkan tantangan, terutama dari sisi izin dan kedaulatan data.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Rusdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan teknologi D2D pada dasarnya terbagi dalam dua kategori utama, ialah hubungan langsung ke perangkat genggam (direct-to-cell) dan hubungan ke perangkat sensor alias direct IoT.
"Kalau sekarang, sensor IoT itu biasanya tetap lewat pengumpul info dulu baru dikirim ke satelit. Ke depan, modelnya bakal langsung dari sensor ke satelit," ujarnya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknologi ini memungkinkan ponsel terhubung langsung ke jaringan satelit tanpa perlu prasarana tambahan seperti BTS. Selain itu, perangkat sensor di beragam sektor-mulai dari maritim hingga industri-juga berpotensi terkoneksi langsung ke satelit untuk mengirimkan info secara real-time.
Di saat nan sama, kebutuhan bakal jasa berbasis Positioning, Navigation, and Timing (PNT) juga meningkat, terutama di tengah tensi geopolitik global. Banyak negara sekarang berupaya mempunyai sistem navigasi sendiri, sebagai pengganti dari GPS.
"Perang satelit itu sekarang juga terjadi di situ, masing-masing negara mau punya sistemnya sendiri," kata Rusdianto.
Meski potensinya besar, penerapan D2D di Indonesia tetap menunggu kejelasan regulasi. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tetap mengkaji beragam aspek, termasuk model operasional dan penggunaan spektrum frekuensi.
Saat ini, jasa D2D dimungkinkan menggunakan spektrum Mobile Satellite Service (MSS). Namun, bandwidth nan tersedia tetap terbatas. Di tingkat global, International Telecommunication Union (ITU) tengah membahas penambahan alokasi gelombang untuk mendukung teknologi ini, nan diperkirakan baru terealisasi pada akhir 2027 alias awal 2028.
Selain itu, muncul dua pendekatan teknologi dalam D2D, ialah model transparan dan regeneratif. Model transparan memanfaatkan jaringan seluler nan sudah ada, sementara model regeneratif memungkinkan satelit berfaedah layaknya operator seluler dengan jaringan inti sendiri.
"Di Indonesia tetap dikaji, apakah kelak bakal dioperasikan oleh operator seluler alias satelit. Tapi kemungkinan besar satelit bakal menjadi perpanjangan dari BTS, alias model transparan," jelasnya.
Meski membawa peluang, ASSI menekankan pentingnya menjaga kedaulatan dalam penerapan teknologi ini. Idealnya, seluruh prasarana satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri. Namun, perihal tersebut memerlukan waktu dan investasi besar.
Sebagai langkah awal, ASSI mendorong agar info dari jasa D2D tetap "landing" di Indonesia, meskipun prasarana satelitnya melibatkan pihak asing.
"Minimal datanya kudu tetap di Indonesia, lantaran ini menyangkut info konsumen dan kedaulatan digital," tegasnya.
Perkembangan teknologi D2D juga tidak lepas dari persaingan dunia nan semakin intens. Selain Starlink, sejumlah pemain lain seperti Amazon dan perusahaan asal China juga tengah mengembangkan konstelasi satelit LEO dalam jumlah besar.
Hal ini membikin masa depan industri satelit, termasuk di Indonesia, bakal sangat dipengaruhi oleh kecepatan penyesuaian terhadap teknologi baru. Pemerintah pun didorong untuk sigap terhadap perkembangan satelit, salah satunya teknologi direct to device.
(agt/agt)
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·