Dolar As Masih Perkasa, Wamentan: Jutaan Petani Happy!

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Pelemahan Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) tidak sepenuhnya berakibat negatif. Menurut Wakil Menteri Pertanian Sudaryono kondisi ini justru membawa untung bagi jutaan petani nan berorientasi ekspor lantaran pembayaran komoditas dilakukan menggunakan Dolar AS.

Dia mengatakan sejumlah komoditas perkebunan seperti kopi, karet, cengkeh, gula aren, gula kelapa hingga serabut kelapa saat ini menikmati untung dari kenaikan nilai tukar Dolar. Sebab hasil ekspor mereka otomatis berbobot lebih tinggi saat dikonversi ke Rupiah.

Berdasarkan info Bloomberg, Rupiah terus melemah terhadap mata duit Paman Sam dan berada pada level Rp 17.744 sore ini. Meski terus tertekan, Bank Indonesia menyebut depresiasi mata duit garuda hanya sebesar 5%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi sebetulnya nilai tukar (Rupiah) nan agak melemah (terhadap Dolar AS) ini ada beberapa,ada jutaan petani kita nan happy. Karena ekspor kopinya dibayar pakai Dolar, ekspor karetnya dibayar pakai Dolar, ekspor cengkeh, ekspor gula aren, ekspor gula, kelapa, ekspor serabut kelapa, ekspor macam-macam," kata Sudaryono dalam aktivitas Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Sudaryono mengaku telah meresmikan beragam aktivitas ekspor UMKM dan koperasi desa di sejumlah wilayah seperti Banjarnegara, Banyumas, Jember, Kulon Progo hingga wilayah Jawa Timur. Produk-produk pertanian dan turunannya dinilai mulai banyak menembus pasar internasional.

"Saya sudah meresmikan ekspor UMKM mungkin di 4 alias 5, oh di 8 koperasi desa,di Banjarnegara, Jember kemudian di Banyumas, kemudian di Jawa Timur, di Kulon Progo, di Jogja, dan happy," sebut Sudaryono.

Meski begitu, dia mengakui pelemahan Rupiah juga memberi tantangan lantaran Indonesia tetap mengimpor sebagian kebutuhan pangan tertentu. Namun, menurutnya kondisi ini justru bisa menjadi momentum memperkuat produksi dalam negeri dan memperbesar ekspor nasional.

"Jadi tentu saja ini jadi tantangan, betul nilai tukar ini juga ada beberapa kebutuhan pangan kita nan tetap impor,tapi selama kita bisa genjot ekspor dengan nilai tukar ini, bisa jadi krisis ini menjadi sebuah opportunity nan besar bagi Indonesia, kita berdikari di sektor pangan, apalagi jika surplus kita bisa ekspor," tutup Sudaryono.

(ily/hal)

Sumber finance