Jakarta, CNN Indonesia --
Wasit asal Somalia Omar Abdulkadir Artan mendapatkan sambutan luar biasa ketika kembali ke negaranya usai ditolak masuk ke Amerika Serikat untuk bekerja di Piala Dunia 2026.
Artan yang dinobatkan sebagai Wasit Terbaik Afrika 2025 itu tiba di Bandara Internasional Aden Adde, Mogadishu, Rabu (11/6). Ia disambut para pejabat pemerintah Somalia serta ratusan penduduk nan datang untuk memberikan support secara langsung.
"Saya mau berterima kasih kepada FIFA atas support mereka selama ini, dan juga kepada rakyat Somalia. Jadi saya sangat berterima kasih kepada FIFA dan juga kepada CAF. Ini nan mau saya sampaikan," kata Artan kepada Al Jazeera yang dilansir LATimes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artan sebenarnya berpeluang menjadi orang Somalia pertama nan memimpin pertandingan Piala Dunia. Namun, angan tersebut pupus setelah dia ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS.
Artan dilaporkan tidak diizinkan masuk ke AS lantaran adanya dugaan keterkaitan dengan seseorang yang disebut sebagai personil organisasi teroris.
Meski demikian, Artan memilih menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.
"Apa nan terjadi sudah terjadi dan itu takdir. Saya berterima kasih atas support nan diberikan FIFA kepada saya," kata Artan.
Ia juga menyampaikan pesan kepada generasi muda Somalia agar tetap optimistis terhadap masa depan negara mereka.
"Somalia adalah milik kita, baik dalam keadaan baik maupun buruk. Saya mau berpesan kepada generasi muda kita agar tidak kehilangan angan terhadap negara kita. Sekarang saya berada di negara saya, dan tidak ada tempat lain nan mau saya tinggali," kata Artan.
Dukungan terhadap Artan terus mengalir. Pada hari nan sama, ribuan penduduk memadati sebuah stadion di Mogadishu. Sebagian membawa bendera dan foto Artan, nan datang sebagai tamu kehormatan dalam sebuah pertandingan.
Bagi sebagian penduduk Somalia, keputusan AS nan menolak masuk Artan ke negaranya tidak mengurangi prestasi maupun wibawa sang wasit.
"Sebagai anak muda, kami betul-betul merasakan kesedihannya. Kami semua juga punya mimpi. Dia telah berupaya keras untuk mencapai tahap nan telah dia raih dan akhirnya dikecewakan," kata mahasiswa Abdulqadir Ali Abokor kepada Reuters.
"Bagi kami dan bagi banyak orang di seluruh dunia, dia adalah seorang juara dan keputusan ini tidak membikin perbedaan," ucap Ali menambahkan.
Dukungan serupa juga disampaikan mantan wasit Abdi Abdulle Baasaale.
"Kami di sini untuk menunjukkan kepadanya bahwa kami mendukungnya," kata Baasaale.
(rhr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·