Dikira Punah, Spesies Ini Ditemukan Lagi Di Papua Nugini

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Penemuan langka di rimba hujan terpencil Semenanjung Vogelkop, Papua Nugini, sukses mengidentifikasi dua jenis mamalia berkantung (marsupial). Salah satunya apalagi lama dianggap menghilang dari catatan ilmiah.

Dikutip dari laporan SciNews, kedua jenis tersebut adalah pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai) dan ring-tailed glider (Tou ayamaruensis). Tou ayamareunsis diyakini telah punah selama kurang lebih 6.000 tahun sebelum akhirnya dinyatakan kembali.

Wilayah Vogelkop di area Papua Barat dikenal minim eksplorasi ilmiah, inilah nan kemungkinan membikin jenis langka susah untuk terdeteksi dalam waktu lama. Bahkan, Profesor Tim Flannery dari Australian Museum menyebut penemuan ini sebagai sesuatu nan sangat luar biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penemuan satu jenis saja sudah luar biasa, menemukan dua sekaligus sangat menakjubkan," ujar Flannery.

Dengan adanya penemuan ini, ini membuktikan tetap banyak jenis nan belum terdokumentasi di wilayah tersebut. Pygmy long-fingered possum sebelumnya hanya dikenal dari temuan terbatas dan sangat jarang terlihat di alam liar.

Minimnya info nan ada membikin pygmy long-fingered possum sempat lenyap dari perhatian ilmuwan, malahan keberadaannya dianggap tidak jelas. Sementara itu, ring-tailed glider menjadi lebih menarik lantaran termasuk dalam genus baru nan pertama ditemukan di Nugini sejak tahun 1937.

Lebih lanjut, kedua jenis ini punya karakter nan tidak biasa. Pygmy long-fingered possum mempunyai satu jari nan sangat panjang, sekitar dua kali panjang jari lainnya nan digunakan untuk mencari larva serangga di dalam kayu. Sedangkan ring-tailed glider merupakan hewan nan hidup di pepohonan dan bisa meluncur dari satu pohon ke pohon lain, mirip dengan tupai terbang.

Pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai) dan Ring-tailed glider (Tous ayamaruensis) nan diyakini telah punah selama kurang lebih 6.000 tahun.Ring-tailed glider (Tous ayamaruensis). Foto: Sci.news

Kontribusi masyarakat

Penemuan membahagiakan ini tak lepas dari kontribusi masyarakat. Rika Korain, peneliti nan juga berasal dari organisasi Maybrat, menekankan pentingnya kerjasama tersebut.

"Identifikasi tidak bakal mungkin tanpa kerja sama dengan masyarakat adat," kata Korain.

Pengetahuan tradisional turut serta membantu intelektual mengenali keberadaan hewan nan sebelumnya tidak terdokumentasi secara ilmiah. Para peneliti menyebut wilayah Vogelkop sebagai bagian dari lanskap antik nan mempunyai hubungan geologis dengan Australia.

Oleh karenanya, area ini berpotensi menjadi rumah bagi spesies-spesies lama nan memperkuat sejak jutaan tahun lalu.

"Hutan di wilayah ini mungkin tetap menyimpan banyak 'relik' dari masa lampau Australia," tutur Flannery.

Kendati demikianm penemuan ini juga membawa kekhawatiran. Habitat kedua jenis tersebut berada di rimba nan rentan terhadap deforestasi dan aktivitas manusia. Jika tidak dilindungi, jenis langka ini bisa saja jadi betul-betul punah sebelum sempat dipelajari lebih jauh.


(ask/ask)


Sumber detik-inet