CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mei 2026 17:25 WIB
Ilustrasi. Kemenkes mengatakan, pemahaman mengenai langkah penularan Hantavirus krusial agar masyarakat dapat melakukan pencegahan secara tepat. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai jangkitan Hantavirus menyusul temuan klaster kasus di kapal pesiar MV Hondius.
Pelaksana tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, pemahaman mengenai langkah penularan krusial agar masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan secara tepat.
Kemenkes menyebut, penularan Hantavirus perlu dipahami dari dua jalur, ialah melalui hewan pembawa penyakit dan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Penularan dari hewan pembawa penyakit
Cara penularan utama Hantavirus berasal dari hewan pembawa penyakit, terutama tikus dan celurut nan terinfeksi. Virus dapat menular saat seseorang kontak dengan gigitan, urine, feses, air liur, alias debu nan terkontaminasi sekresi dan sekresi hewan tersebut.
"Faktor akibat utama adalah kontak erat dengan tikus celurut terinfeksi maupun paparan sekresi dan sekresinya," kata Andi dalam konvensi pers, Senin (11/5).
Risiko paparan dapat meningkat pada orang nan bekerja alias beraktivitas di area nan memungkinkan kontak dengan tikus. Kelompok tersebut antara lain petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pekerja selokan, hingga petugas laboratorium nan menangani hewan pembawa penyakit.
Andi juga mengingatkan, akibat paparan dapat muncul saat masyarakat beraktivitas di luar ruangan, seperti berkemah alias berada di letak nan berpotensi menjadi kediaman tikus.
2. Penularan antarmanusia
Kemenkes menyebut penularan Hantavirus antarmanusia sangat jarang terjadi. Penularan ini dilaporkan terbatas pada Hantavirus nan menyebabkan HPS (Hantavirus pulmonary syndrome) dengan jenis Andes di Amerika Selatan, khususnya melalui kontak intens dan berkepanjangan.
"Amerika Selatan, itu ada penelitian oleh Martinez tahun 2005 di Argentina menunjukkan bahwa transmisi antar-manusia nan disebabkan oleh Andes virus nan terjadi di kapal pesiar Hondius tersebut, disebabkan oleh Andes virus dan dapat terjadi penularan, terbatas pada kontak intens dan berkepanjangan," kata Andi.
Andi mengatakan, kondisi tersebut berbeda dengan Hantavirus jenis HFRS (Hemorrhagic fever renal syndrome) nan ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Untuk jenis HFRS, belum ada bukti penularan antarmanusia.
"Tetapi saya perlu sampaikan di sini bahwa untuk jenis HFRS nan terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk nan sudah ada kasusnya sejak tahun 1991 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antar manusia," ujarnya.
Kemenkes sebelumnya menjelaskan Hantavirus nan ditemukan pada klaster kapal pesiar MV Hondius merupakan jenis Andes nan menyebabkan HPS. Sementara itu, hantavirus nan pernah dilaporkan di Indonesia merupakan jenis Seoul nan menyebabkan HFRS.
"Virus Hanta nan ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS, sekali lagi berbeda dengan jenis nan terjadi di kapal pesiar Hondius," kata Andi.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·