Bulan Bergerak Jauhi Bumi, Ini Dampaknya Bagi Manusia

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Bulan rupanya terus bergerak menjauh dari Bumi. Fenomena nan telah berjalan selama miliaran tahun ini sekarang mulai menunjukkan akibat nyata bagi manusia, termasuk kemungkinan hilangnya eklips Matahari Total di masa depan.

Menurut hasil pengukuran ilmiah, Bulan menjauh dari Bumi dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Angka tersebut memang terdengar kecil, apalagi setara dengan pertumbuhan kuku manusia. Namun dalam skala jutaan hingga miliaran tahun, perubahan ini membawa akibat besar terhadap sistem Bumi-Bulan.

Fenomena tersebut dikonfirmasi melalui penelitian ilmiah berjulukan Lunar Laser Ranging Experiment (LLRE). Dalam penelitian ini, intelektual menembakkan sinar laser dari observatorium di Bumi menuju reflektor unik nan ditinggalkan astronot misi Apollo di permukaan Bulan pada akhir 1960-an dan 1970-an.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan menghitung waktu pantulan laser nan menyantap waktu sekitar 2,5 detik pulang-pergi, intelektual bisa mengukur jarak Bumi dan Bulan dengan tingkat kecermatan hingga milimeter. Pengamatan nan dilakukan selama puluhan tahun menunjukkan bahwa jarak keduanya memang terus bertambah.

Gerhana Matahari Total Bisa Hilang

Salah satu akibat terbesar dari menjauhnya Bulan adalah perubahan pada kejadian eklips Matahari Total. Saat ini, Bulan dan Matahari terlihat nyaris sama besar dari Bumi lantaran kombinasi jarak dan ukuran nan sangat pas.

Matahari mempunyai diameter sekitar 400 kali lebih besar dibanding Bulan, tetapi jaraknya juga sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi. Kebetulan kosmik ini memungkinkan Bulan menutupi Matahari secara sempurna saat eklips Total terjadi.

Namun seiring Bulan terus menjauh, ukurannya di langit bakal tampak semakin kecil. Akibatnya, Bulan nantinya tak lagi bisa menutupi seluruh permukaan Matahari.

Ilmuwan NASA Richard Vondrak pernah menjelaskan bahwa eklips Matahari Total suatu saat bakal berakhir.

"Seiring berjalannya waktu, jumlah dan gelombang Gerhana Matahari Total berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi bakal memandang keelokan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya," ujar Vondrak pada 2017 dikutip dari iflscience.

Setelah periode tersebut, nan tersisa hanyalah eklips Matahari cincin alias annular eclipse. Dalam kejadian itu, Bulan tampak terlalu mini untuk menutupi Matahari sepenuhnya sehingga menyisakan lingkaran sinar terang di sekelilingnya.

Dulu Bulan Tampak Jauh Lebih Besar

Kondisi Bulan di masa lampau rupanya sangat berbeda dibanding sekarang. Saat pertama kali terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lampau akibat tabrakan raksasa, Bulan berada jauh lebih dekat dengan Bumi.

Beberapa ratus juta tahun setelah pembentukannya, Bulan diperkirakan tampak sekitar tiga kali lebih besar di langit dibanding ukuran nan terlihat saat ini.

Perubahan jarak ini terjadi akibat hubungan gravitasi dan pasang surut antara Bumi dan Bulan. Rotasi Bumi nan lebih sigap secara perlahan mentransfer daya ke orbit Bulan sehingga satelit alami tersebut terdorong semakin jauh.

Di sisi lain, proses ini juga membikin rotasi Bumi melambat. Dampaknya, panjang hari di Bumi terus bertambah meski sangat mini dan susah dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tata surya bukan sistem nan statis. Meski perubahan berjalan sangat lambat, dampaknya nyata dalam skala waktu astronomi.

Bagi generasi manusia ratusan juta tahun mendatang, eklips Matahari Total kemungkinan hanya bakal menjadi catatan sejarah astronomi nan pernah menghiasi langit Bumi, dikutip detikINET dari Iflscience.


(afr/fyk)

Sumber detik-inet