Jakarta -
Bertahun lamanya, pembuat bitcoin Satoshi Nakamoto sukses menyembunyikan identitasnya. Kini, investigasi New York Times mungkin telah memecahkan misteri tersebut. Mereka menunjuk intelektual komputer asal Inggris, Dr. Adam Back, sebagai Nakamoto.
Para pendatang baru maupun veteran di industri mata uang digital memperkirakan tentang identitas original Satoshi Nakamoto selama lebih dari satu dekade. Tak terhitung banyaknya artikel, movie dokumenter, dan beberapa tuntutan norma diluncurkan demi pencarian ini.
Nakamoto berstatus layaknya mitos, sebagai tokoh kunci di bumi aset digital. Penemuannya menggerakkan pasar mata uang digital senilai USD 2,4 triliun. Nakamoto juga diketahui mengendalikan 1,1 juta bitcoin, sekitar 44% lebih banyak dari pemegang bitcoin korporat terbesar dunia, Strategy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Back, nan bakal berumur 56 tahun bulan Juli, memberi kontribusi tak ternilai bagi bumi kripto. Di 1997, Back menciptakan filter spam email nan dikenal sebagai Hashcash. Algoritma dasarnya, dikenal sebagai proof of work, terus membentuk arah penelitian duit mata uang digital selama dasawarsa berikutnya. Ini jadi fondasi utama nan memungkinkan bitcoin beraksi setelah bertahun-tahun kegagalan menciptakan mata duit digital.
Satoshi diketahui sempat mengirim email pada Back beberapa bulan sebelum merilis white paper bitcoin untuk memastikan dia mengutip karya Back dengan benar. Nah menurut NY Times, keterkaitan antara kedua kriptografer ini rupanya jauh lebih dalam.
Poin krusial dari investigasi New York Times adalah style tulisan Satoshi sangat selaras dengan Back. Programmer Finlandia, Martti Malmi, nan bekerja sama dengan Satoshi di masa awal bitcoin, telah mempublikasikan ratusan percakapan email sebagai bagian sebuah persidangan.
Reporter investigasi NTY, John Carreyrou, dibantu master AI Dylan Freedman, mengumpulkan seluruh korespondensi dari tiga milis internet krusial dalam kurun waktu beberapa dekade. Mereka membandingkan materi tersebut dengan semua tulisan nan diketahui milik Satoshi. Back terbukti mempunyai tingkat kemiripan terdekat dengan Satoshi dalam kajian penulisan.
Ciri unik penulisan nan sama-sama dimiliki Satoshi dan Back antara lain menggunakan dua spasi di antara kalimat, menggunakan pelafalan bahasa Inggris British, serta kesalahan penggunaan tanda hubung nan serupa. Carreyrou mengusulkan teori bahwa Back menulis email-email tersebut kepada dirinya sendiri sebagai corak alibi.
Back membantah temuan NYT tersebut, baik di tulisan itu maupun di X. "Saya bukan Satoshi, tapi saya sejak awal sangat konsentrasi pada implikasi positif kriptografi bagi masyarakat, privasi online, dan duit tunai elektronik," cetusnya nan dikutip detikINET dari Yahoo Finance.
Namun, kemiripan antara Satoshi dan Back sangat banyak. Seperti dijelaskan NYT, perihal pertama nan memicu investigasi Satoshi ini adalah ketika Carreyrou menonton serial HBO nan mencoba mengungkap misteri Satoshi. Cara Back bersikap selama wawancara di dokumenter tersebut menggelitik rasa penasaran Carreyrou.
"Karena sering menghadapi para pembohong dan punya semacam skill dalam mengenali gerak-gerik mereka, sikap Back, tatapan mata nan gelisah, tawanya nan canggung, aktivitas kaku dari tangan kirinya, terasa mencurigakan bagi saya. Saat credits bergulir, saya memutar ulang segmen tersebut beberapa kali," tulisnya.
Baru-baru ini, Back jadi CEO BSTR, perusahaan pengelola aset nan memegang lebih dari 30.000 bitcoin nan bersiap go public. Adapun investigasi nan berjalan selama setahun ini bukanlah upaya pertama untuk mengungkap identitas Nakamoto. Back dianggap salah satu kandidat paling masuk logika berbareng intelektual komputer Hal Finney dan Nick Szabo.
(fyk/afr)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·