Bei Bakal Temui Penyedia Indeks Global Lagi

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta -

Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal ada pertemuan lanjutan dengan sejumlah lembaga penyedia indeks global, seperti MSCI dan FTSE Russell. Pertemuan ini menjadi tindak lanjut dari reformasi nan tengah dijalankan pasar modal Indonesia.

Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, pertemuan dengan penyedia indeks saham dunia dilakukan rutin. Terakhir, dia menyebut baru berjumpa pada akhir April dengan MSCI.

"Di bulan Mei juga ada pertemuan, kemudian ada permintaan info nan disampaikan oleh MSCI, sudah kami sampaikan. Setelah itu bakal ada pertemuan lagi di level teknis. Jadi, di level teknis sering sekali ada pertemuan, obrolan melangkah terus," ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Jeffrey juga menyebut pihaknya rutin menggelar pertemuan dengan golongan penanammodal global. Namun, dia tak menyebut pasti entitas golongan penanammodal tersebut.

BEI telah menyampaikan info nan diperlukan mengenai rebalancing indeks MSCI nan bakal bertindak efektif pada 29 Mei 2026. Jeffrey juga tengah menunggu masukan dari beragam pihak, termasuk MSCI, FTSE Russell, hingga penanammodal global.

"Seluruh nan perlu kita sampaikan, sudah kami sampaikan. Kita sebaliknya menunggu masukan, tidak hanya dari MSCI dan FTSE, tetapi juga dari penanammodal global," pungkasnya.

Sebagai informasi, MSCI dan FTSE Russell telah mengumumkan bakal mengeluarkan sejumlah saham Indonesia. MSCI diketahui mengeluarkan 18 saham asal Indonesia nan bertindak mulai 29 Mei mendatang.

Di antara 18 saham tersebut, terdapat dua saham nan kategori high shareholding concentration (HSC) nan dikeluarkan MSCI. Kedua saham ini PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Kemudian, FTSE Russell juga melakukan langkah serupa dengan mengeluarkan DSSA dari konstituen indeks Large Cap FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Selain itu, FTSE Russell juga mengeluarkan tiga saham lain dari kategori mikro cap, ialah PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) lantaran mempunyai free float di bawah pemisah minimum serta PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) lantaran tidak memenuhi kriteria atau failed surveillance stocks screen.

(ahi/ara)

Sumber finance