Bangkai Paus Di Kedalaman 1,4 Km Ungkap Misteri Laut Dalam

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Di 2010, mahir biologi kelautan mendapat temuan luar biasa.Saat menjelajahi kedalaman samudra sangat dingin di sekitar Antartika, mereka tanpa sengaja menemukan kerangka paus raksasa nan bersih dilahap organisme laut dalam.

Penemuan tak terduga ini tidak hanya berujung pada identifikasi jenis baru, tapi juga memberi gambaran nan belum pernah ada sebelumnya tentang gimana ekosistem laut dalam bisa memperkuat hidup di tengah kondisi ekstrem.

Laut dalam tidak berkawan termasuk di Samudra Selatan sekitar Antartika dengan suhu berkisar titik beku. Tumbuhan berfotosintesis merupakan dasar dari sebagian besar jaring makanan, namun lantaran ketiadaan cahaya, organisme kudu mencari sumber nutrisi lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satunya melalui salju laut, ialah hujan sisa bahan organik nan jatuh dari laut atas ke laut dalam. Cara lainnya adalah dengan buntang paus nan tenggelam di dasar laut dan menjadi jamuan makan melimpah, nan sering kali bisa memperkuat berbulan-bulan, bertahun-tahun, apalagi beberapa dekade.

Namun, menemukan dan mempelajari buntang di kedalaman samudra tak mudah. Segelintir buntang nan pernah ditemukan biasanya berada di perairan beriklim sedang alias tropis, dan belum ada nan ditemukan di Antartika hingga ekspedisi Inggris menggunakan kapal RRS James Cook di Januari 2010.

"Kami baru saja menyelesaikan penyelaman menggunakan kendaraan nan dioperasikan dari jarak jauh milik Inggris, Isis, ketika kami memandang sekilas deretan bongkahan berwarna pucat di kejauhan, nan rupanya tulang belakang paus di dasar laut," ujar Jon Copley, guru besar eksplorasi laut University of Southampton nan dikutip detikINET dari IFL Science.

Kerangka 10,7 meter itu terletak di kawah bawah laut di dekat Kepulauan South Sandwich pada kedalaman 1.444 meter. Ia diidentifikasi sebagai paus minke Antartika (Balaenoptera bonaerensis), paus balin paling melimpah di lautan dunia.

Tubuh paus tersebut memasuki pembusukan sangat lanjut, di mana nyaris tidak ada daging alias lemak tersisa. Pada fase ini, kuman memecah lemak nan tersimpan di tulang paus, melepaskan daya kimiawi nan menopang kehidupan beragam biota laut.

Berkat proses kemosintesis ini, tulang itu tetap dipenuhi organisme pemakan bangkai. Di antaranya terdapat setidaknya sembilan jenis baru, termasuk jenis baru krustasea isopoda nan menyerupai kutu kayu bawah air, serta Lepetodrilus (sejenis siput laut) nan belum pernah dideskripsikan.

Peneliti juga mengidentifikasi cacing zombi pemakan tulang menakjubkan nan dikenal sebagai Osedax, nan dapat melarutkan tulang paus dengan unsur masam untuk mengakses nutrisi. Di luasnya Samudra Selatan, sungguh keajaiban makhluk-makhluk ini bisa menemukan buntang nan sangat terpencil.

"Salah satu misteri biologi laut dalam terbesar nan tetap tersisa adalah gimana invertebrata mini ini dapat menyebar di antara habitat-habitat terisolasi nan ditopang bangkai-bangkai paus dasar laut," tambah Adrian Glover dari Natural History Museum, London.


(fyk/fay)


Sumber detik-inet