Bahan Baku Fiber Optik Naik 17%, Industri Minta Pemerintah Turun Tangan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) meminta pemerintah turun tangan menyikapi lonjakan nilai bahan baku dan material kabel fiber optik hingga 17% akibat dari situasi geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan tersebut dinilai menjadi tekanan serius bagi operator dan penyedia prasarana jaringan lantaran dapat meningkatkan biaya pembangunan serta ekspansi jasa broadband nasional.

"Secara signifikan nilai kabel fiber optik dari supplier saat ini sudah tidak normal. Kenaikannya nyaris 15-17 persen," ujar Ketua Umum Apjatel Jerry Mangasas Swandy kepada detikINET, Selasa (14/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, kenaikan tersebut juga dipicu oleh melonjaknya nilai bahan baku turunan seperti HDPE nan digunakan dalam pelindung kabel fiber optik. Sebagai informasi, HDPE (High-Density Polyethylene) merupakan pipa nan biasanya berwarna oranye mencolok alias hitam dengan garis warna.

"Kalau sebelumnya sekitar Rp10 ribu per meter, sekarang bisa naik Rp1.500 sampai Rp1.700 per meter. Itu sangat signifikan," ungkapnya.

Persoalan kenaikan bahan baku dan material fiber optik tersebut disebut telah disampaikan Apjatel kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Jerry harapkan itu menjadi perhatian Komdigi beserta lintas kementerian termasuk Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

Industri berambisi Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat menyiapkan langkah intervensi alias insentif agar kenaikan biaya bahan baku tidak menghalang pembangunan prasarana digital nasional.

"Kami optimistis pemerintah bakal memberi perhatian lantaran ini menyangkut pembangunan digital nasional," tambahnya.


(agt/agt)

Sumber detik-inet