As Hadapi Realita Pahit, Bomber Siluman Tak Cukup Lawan Iran

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran membuka satu kebenaran nan selama ini jarang disorot: kekuatan bomber siluman AS rupanya belum cukup untuk menghadapi perang modern nan semakin kompleks. Di kembali kekuasaan teknologi militernya, Washington sekarang dihadapkan pada "realita pahit" soal keterbatasan armada.

Dalam operasi udara terbaru melawan Iran, Angkatan Udara AS kudu mengandalkan kombinasi beragam platform, mulai dari bomber lama seperti B-52 hingga pesawat siluman B-2 Spirit. Bahkan, sejumlah misi dilakukan dari jarak sangat jauh dengan lama penerbangan lebih dari 30 jam demi menghindari sistem pertahanan udara Iran.

Situasi ini menegaskan satu perihal penting: meski mempunyai teknologi canggih, jumlah aset tempur strategis tetap menjadi aspek krusial dalam peperangan modern.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar serangan awal dilakukan menggunakan bomber B-52 Stratofortress dan B-1B Lancer dari jarak aman. Namun ketika stok Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM) mulai menipis, AS terpaksa menggunakan munisi jarak pendek nan diluncurkan dari pesawat tempur seperti F-15E Strike Eagle dan F-35A Lightning II-yang justru meningkatkan akibat di medan tempur.

Bahkan, laporan menyebut ada pesawat nan rusak hingga jatuh di wilayah udara Iran. Ini mempertegas bahwa superioritas udara AS tidak sepenuhnya tercapai. Dalam kondisi seperti ini, hanya segelintir platform seperti B-2 Spirit nan terbukti bisa menembus pertahanan musuh dan kembali tanpa gangguan berarti.

Namun keandalan B-2 pun mempunyai keterbatasan. Operasi intensif di awal bentrok kemudian menurun, diduga lantaran biaya operasional nan sangat tinggi serta akibat besar dalam misi penetrasi. Hal ini semakin menegaskan kebutuhan bakal generasi baru bomber siluman nan lebih canggih dan fleksibel.

B-21 Raider BomberB-21 Raider Bomber Foto: via 19fortyfive

Di sinilah B-21 Raider masuk sebagai angan baru. Bomber generasi terbaru ini dirancang dengan teknologi siluman nan lebih unggul, arsitektur sistem terbuka, serta keahlian untuk bertindak sebagai pusat komando udara nan bisa mengelola pertempuran secara real-time. B-21 bukan sekadar pembawa senjata, melainkan juga "otak" dalam jaringan peperangan modern.

Namun masalahnya bukan hanya soal teknologi, melainkan jumlah. Amerika Serikat saat ini menargetkan produksi sekitar 100 unit B-21 Raider untuk menggantikan armada lama seperti B-1B dan B-2. Pertanyaannya, apakah jumlah tersebut cukup?

Realitanya, tidak ada armada militer nan bisa beraksi dalam kondisi 100 persen siap tempur. Sebagian pesawat selalu berada dalam fase perawatan, pelatihan, alias cadangan. Secara historis, hanya sekitar separuh hingga dua pertiga dari total armada nan betul-betul siap digunakan kapan saja. Artinya, dari 100 unit B-21, kemungkinan hanya sekitar 50 hingga 60 pesawat nan siap tempur secara global.

Jumlah itu menjadi sangat terbatas jika AS kudu menghadapi bentrok di lebih dari satu wilayah sekaligus, seperti di Timur Tengah dan Indo-Pasifik. Dalam skenario perang multi-front, margin kekuatan tersebut bisa terkikis dengan cepat.

B-21 Raider BomberB-21 Raider Bomber Foto: via 19fortyfive

Kondisi ini diperparah oleh perubahan karakter perang modern. Jika dulu bentrok besar diasumsikan berjalan singkat, sekarang justru sebaliknya. Perang condong berjalan panjang, penuh atrisi, dan menguras sumber daya secara bertahap. Dalam situasi seperti ini, jumlah platform tempur menjadi sama pentingnya dengan kecanggihannya.

Militer AS sendiri mulai mengakui bahwa sasaran 100 unit B-21 mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi ancaman saat ini. Sejumlah pejabat dari US Strategic Command dan Air Force Global Strike Command apalagi menyebut nomor tersebut sebagai dugaan lama nan perlu diperbarui.

Angka sekitar 145 unit B-21 mulai disebut sebagai kebutuhan nan lebih realistis, terutama jika dipadukan dengan armada bomber lain seperti B-52J nan telah dimodernisasi. Bahkan, beberapa analis menilai jumlah tersebut pun tetap belum cukup untuk menghadapi dinamika geopolitik dunia nan terus berubah.

B-21 Raider BomberB-21 Raider Bomber Foto: via 19fortyfive

Di sisi lain, dari aspek industri, program B-21 justru berada dalam posisi nan relatif kuat. Produksinya melangkah sesuai agenda dan apalagi berada di bawah proyeksi biaya awal-sesuatu nan jarang terjadi dalam proyek pertahanan skala besar. Infrastruktur manufaktur juga telah disiapkan untuk meningkatkan output jika diperlukan.

Dengan lanskap geopolitik nan semakin tidak menentu, AS sekarang dihadapkan pada dilema besar: apakah cukup mengandalkan kelebihan teknologi, alias kudu memperbanyak armada demi menjaga kekuasaan militer global.

Jawabannya mulai terlihat jelas-dan tidak sepenuhnya nyaman bagi Washington. Demikian dilansir dari laman 19fortyfive.

Saksikan Live DetikPagi:


(afr/afr)


Sumber detik-inet