Ancaman Serius, Bantargebang Penyumbang Gas Metana Nomor 2 Di Dunia

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, dinobatkan sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah laporan berjudul 'Spotlight on the Thop 25 Methane Plumes in 2025: Landfills' nan dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026. Laporan ini merangkum 25 letak tempat pembuangan sampah dengan tingkat emisi metana tertinggi di bumi sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan ini didapatkan dari info emisi metana publik Carbon Mapper nan memanfaatkan pantauan satelit. Mereka menggunakan dua perangkat sekaligus, ialah satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan perangkat EMIT milik NASA nan terpasang langsung di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

"Data menunjukkan lebih dari 2.994 emisi dari 707 letak pembuangan limbah, termasuk tempat pembuangan akhir di seluruh dunia," tulis UCLA dalam laporannya, dikutip Senin (27/4).

Laporan UCLA mengungkap, emisi di daftar '25 teratas' ini jauh melampaui rata-rata tempat pembuangan akhir (TPA) di dunia. Jika TPA pada umumnya hanya mengeluarkan puluhan kilogram metana, 25 letak ini justru 'menyemburkan' gas metana 3,6 hingga 7,5 ton per jam.

Merujuk laporan tersebut, TPST Bantargebang menghasilkan 6,3 ton gas metana per jam, menjadikannya sebagai letak nan terburuk di area Asia. Tingkat persistensinya mencapai 100 persen, nan berfaedah emisi selalu terdeteksi setiap satelit melintas di letak tersebut.

Selain itu, satelit juga mengidentifikasi 35 gumpalan gas metana berskala besar dengan keseluruhan info diperoleh dari hasil pengamatan selama 13 hari. Data Carbon Mapper juga mengungkap bahwa terdapat lonjakan emisi metana pada pertengahan 2025 nan sempat menembus lebih dari 12 ton per jam.

Lokasi ini hanya kalah dari TPA Campo de Mayo nan berada di Buenos Aires, Argentina nan menghasilkan 7,6 ton gas metana per jam.

UCLA mengilustrasikan bahwa emisi 5 ton metana per jam setara dengan emisi dari satu juta mobil SUV alias satu pembangkit listik tenaga batu bara berkapasitas 500 megawatt.

Metana merupakan senyawa hidrokarbon fraksi ringan nan mempunyai karakter mudah terbakar. Gas metana biasa digunakan dalam pembuatan gas alam alias LNG (Liquid Natural Gas) dan bisa difungsikan sebagai pembangkit listrik.

Gas ini merupakan hasil proses dekomposisi bahan organik mikroorganisme di lingkungan kurang oksigen.

Metana tidak beracun. Metana dalam jumlah sedikit juga tidak menimbulkan potensi ancaman apapun selalin aroma busuk nan menyengat, tapi jika mengalami tekanan dengan konsentrasi tinggi, bakal menimbulkan ledakan nan besar.

Apakah gas metana berbahaya?

Melansir Aliansi Zero Waste Indonesia, meski tidak berbahaya, gas metana nan menumpuk juga bisa menjadi ancaman serius jika menumpuk dalam jumlah besar, terutama lantaran potensi kebakaran nan dapat diakibatkan.

Menurut laporan Aliansi Zero Waste Indonesia pada 2023, sekitar 38 TPA terbakar lantaran ledakan gas metana nan dipicu cuaca panas. Peningkatan suhu udara nan ekstrem serta kelembaban nan tinggi menjadi pemicu utama ledakan di TPA.

Akibatnya, gas metana nan dihasilkan dari aktivitas pembusukan sampah di TPA menjadi lebih mudha terbakar dan menyababkan kebakaran nan susah dikendalikan.

"Kejadian ini tentunya menimbulkan musibah kedaruratan sampah di tiap daerah," tulis Aliansi Zero Waste Indonesia.

Sempat jadi sorotan

TPST Bantargebang sempat jadi sorotan nasional. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkap tumpukan sampah di TPST Bantargebang sudah mencapai ketinggian setara gedung 16 hingga 20 lantai.

Ia menyoroti lambatnya penanganan masalah ini, serta menyatakan bisa menyelesaikannya dalam waktu satu tahun jika diberikan kewenangan penuh.

Zulhas mengaku terkejut saat memandang langsung kondisi Bantargebang. Ia menilai volume sampah nan terus menggunung menunjukkan pengelolaannya belum optimal.

"Kalau saya tadi pakai baju ini lantaran baru lihat, ke mana, Bantargebang, baru lihat sampah, Pak. Sekiranya, hanya ada di kita sampah nan jadi gunung. Kalau disetarakan dengan gedung, kira-kira gedung 16 sampai 20 lantai tingginya," ujar Zulhas beberapa waktu lalu.

Ia pun mempertanyakan kenapa masalah ini tidak kunjung terselesaikan. Menurutnya, jika mendapat petunjuk presiden (inpres), dia bisa menyelesaikan masalah ini dalam satu tahun dan membangun solusi jangka panjang di tahun berikutnya.

"Bayangin tuh sampah. 'Kok enggak bisa ngatasin sih sampah?' Saya bilang, jika waktu enggak ada Bapak Presiden pak, percayakan saya, kasih saya inpres, satu tahun selesai, dibangun tahun kedua. Gitu," katanya.

Sebelumnya, Zulhas melakukan kunjungan ke TPA Bantargebang, nan menjadi letak pemrosesan sampah utama bagi Provinsi DKI Jakarta.

Dengan luas mencapai 117 hektare, TPA ini menerima sekitar 7.700 ton sampah per hari, sehingga mengalami kelebihan kapabilitas dengan ketinggian timbunan mencapai lebih dari 40 meter.

(dmi/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-tekno