Jakarta -
Penyedia platform pengawasan AI, Palantir, sudah tak asing lagi dengan kontroversi. Perusahaan ini meraup miliaran dolar setiap tahun dari kemitraan kontroversial dengan lembaga-lembaga seperti Imigrasi dan Bea Cukai AS (Immigration and Customs Enforcement / ICE) dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Dalam wawancara di aktivitas nan diselenggarakan oleh New York Times, CEO Palantir Alex Karp apalagi bertindak lebih jauh dengan berdasar bahwa melegalkan kejahatan perang Amerika Serikat justru bakal membuka pasar nan sama sekali baru bagi Palantir.
Sang CEO membahas serangan udara AS nan tengah berjalan terhadap kapal-kapal mini di Karibia. Pemerintahan Donald Trump sejauh ini telah menewaskan 83 penduduk sipil Amerika Selatan dalam 21 operasi nan diketahui publik. Tindakan militer ini oleh banyak cerdas pandai dan master norma dianggap sebagai kejahatan perang nan melanggar konstitusi AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dalam skenario asumsi di mana serangan terhadap orang-orang tak bersalah tersebut dianggap konstitusional, Karp antusias mengatakan bahwa Palantir bakal meraup banyak keuntungan.
"Sebagian dari argumen kenapa saya menyukai pertanyaan ini adalah, semakin Anda mau membuatnya (serangan tersebut) konstitusional, dan semakin Anda mau menjadikannya presisi, maka semakin Anda bakal memerlukan produk saya," ujar sang CEO.
"Jadi, Anda teruslah berupaya membuatnya konstitusional. Saya mendukung penuh perihal itu," imbuhnya seperti dikutip detikINET dari Futurism.
Karp tidak pernah segan menyatakan dukungannya terhadap kekerasan. Tak seperti taipan lain nan mengambil untung dari industri militer namun berlindung di kembali konsep seperti kerakyatan dan keamanan nasional, CEO Palantir ini tidak takut terang-terangan memihak sumber pundi-pundinya dengan bahasa bombastis.
Dalam surat kepada para pemegang saham awal tahun ini misalnya, Karp mengutip cerdas pandai politik berpatokan keras, Samuel Huntington, saat berdasar bahwa kebangkitan Barat tidak dimungkinkan oleh kelebihan ide, nilai, alias kepercayaan melainkan oleh kelebihan menerapkan kekerasan nan terorganisir.
Meskipun pernyataan tersebut bisa saja dilihat sebagai kecaman keras terhadap peradaban Barat beserta cengkeramannya nan sadis atas ekonomi dunia, Karp justru memposisikannya sebagai sumber inspirasi sesuai pepatah 'Kekuatan menentukan kebenaran'.
CEO Palantir ini juga kembali menegaskan komitmennya terhadap ICE, menekankan peran krusial nan dia mainkan dalam memperburuk kehidupan para imigran. "Saya bakal menggunakan seluruh pengaruh saya untuk memastikan negara ini tetap skeptis terhadap migrasi," kata Karp.
(fyk/fyk)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·