Warga Palangka Raya Harus Putar Anggaran Usai Harga Pertamax Naik

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO  – Kenaikan nilai BBM jenis Pertamax nan sekarang mencapai Rp16.000 per liter membikin penduduk Palangka Raya kudu menyesuaikan kembali pengeluaran bulanan mereka.

Kenaikan tersebut dikeluhkan lantaran dinilai menambah beban ekonomi, baik bagi pekerja maupun mahasiswa.

Seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Tri (25), mengaku terkejut dengan kenaikan nilai nan bertindak pada tengah malam tersebut.

Ia menilai pemberitahuan penyesuaian nilai dirasa lambat dan di luar perkiraan masyarakat.

“Pemberitahuannya agak terlambat, naiknya kan di jam 12 malam. Entah apakah lantaran minyak bumi nan lagi naik alias apa, kita belum tahu alasannya. Perasaan saya sedikit kaget, ini di luar perkiraan,” ungkap Tri saat ditemui awak media di SPBU Jl. Imam Bonjol, Rabu (10/6/2026) sore.

Meski merasa keberatan dengan nilai baru tersebut, Tri mengaku terpaksa tetap menggunakan Pertamax demi menjaga performa dan keawetan mesin kendaraannya.

Ia enggan mengambil akibat dengan turun menggunakan Pertalite. Namun, sebagai kepala keluarga, kenaikan BBM non-subsidi ini memaksanya untuk kembali merombak alokasi pengeluaran bulanan.

Electronic money exchangers listing

“Karena kebutuhan mesin, mau tidak mau meski naik lebih memilih amannya. Tapi ya sedikit keberatan juga. Sebagai kepala family kan sudah ada kalkulasi pengeluaran, jadinya secara tidak langsung kita kudu memutar lagi untuk keperluan nan lain-lain,” imbuhnya.

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO  – Kenaikan nilai BBM jenis Pertamax nan sekarang mencapai Rp16.000 per liter membikin penduduk Palangka Raya kudu menyesuaikan kembali pengeluaran bulanan mereka.

Kenaikan tersebut dikeluhkan lantaran dinilai menambah beban ekonomi, baik bagi pekerja maupun mahasiswa.

Seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Tri (25), mengaku terkejut dengan kenaikan nilai nan bertindak pada tengah malam tersebut.

Electronic money exchangers listing

Ia menilai pemberitahuan penyesuaian nilai dirasa lambat dan di luar perkiraan masyarakat.

“Pemberitahuannya agak terlambat, naiknya kan di jam 12 malam. Entah apakah lantaran minyak bumi nan lagi naik alias apa, kita belum tahu alasannya. Perasaan saya sedikit kaget, ini di luar perkiraan,” ungkap Tri saat ditemui awak media di SPBU Jl. Imam Bonjol, Rabu (10/6/2026) sore.

Meski merasa keberatan dengan nilai baru tersebut, Tri mengaku terpaksa tetap menggunakan Pertamax demi menjaga performa dan keawetan mesin kendaraannya.

Ia enggan mengambil akibat dengan turun menggunakan Pertalite. Namun, sebagai kepala keluarga, kenaikan BBM non-subsidi ini memaksanya untuk kembali merombak alokasi pengeluaran bulanan.

“Karena kebutuhan mesin, mau tidak mau meski naik lebih memilih amannya. Tapi ya sedikit keberatan juga. Sebagai kepala family kan sudah ada kalkulasi pengeluaran, jadinya secara tidak langsung kita kudu memutar lagi untuk keperluan nan lain-lain,” imbuhnya.

Sumber prokalteng