Wanita Ini Eksperimen Stop Makan Gula 30 Hari, Begini Yang Terjadi Pada Tubuhnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Gula nyaris selalu datang dalam beragam momen bahagia. Tak heran, bahan ini juga tersembunyi di banyak makanan sehari-hari, dari roti, yogurt, hingga saus.

Penelitian dari University of California San Francisco menemukan produsen menambahkan gula ke sekitar 74 persen makanan olahan. Fakta ini nan akhirnya mendorong seorang wanita nan berprofesi sebagai pembuat konten makanan digital mencoba tantangan berakhir mengonsumsi gula selama 30 hari.

Wanita berjulukan Kimberly Holland mengaku awalnya ragu lantaran sangat menyukai makanan manis. Tetapi, setelah menyadari gelombang membeli camilan manis nan cukup sering, dia memutuskan 'istirahat' dari gula.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama menjalani tantangan tersebut, Kimberly menerapkan patokan ketat, seperti tidak mengonsumsi gula tambahan, tidak menggunakan pemanis buatan, dan tetap memperbolehkan gula alami dari buah serta susu.

Menurut American Heart Association, konsumsi gula tambahan sebaiknya dibatasi maksimal 9 sendok teh per hari untuk laki-laki dan 6 sendok teh untuk wanita. Tetapi, rata-rata konsumsi bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat.

Lantas, apa nan terjadi setelah 30 hari?

1. Berat Badan Tidak Naik

Kimberly mengaku tidak mengalami penurunan berat badan. Tetapi, berat badannya juga tidak bertambah.

"Saya mungkin tidak mengurangi karbohidrat, tetapi saya juga tidak menambah berat badan. Dan itu adalah tujuan saya," katanya, dikutip dari Eating Well.

Tanpa camilan manis harian, dia menyadari kebiasaan konsumsi gula nan diterapkannya selama ini condong berlebihan. Ia baru menyadari banyak makanan seperti sup, saus, hingga makanan siap saji mengandung gula tersembunyi.

"Saya segera menyadari banyak saya mengonsumsi gula secara sembarangan," tambahnya.

2. Energi Terasa Lebih Stabil

Setelah melewati masa adaptasi, Kimberly merasakan daya lebih stabil sepanjang hari. Ia tidak lagi memerlukan minuman manis alias soda di sore hari untuk mendongkrak energi.

Kondisi ini diduga terjadi lantaran tubuh tidak lagi mengalami lonjakan gula darah nan drastis.

3. Lebih Sensitif Terhadap Rasa Manis

Setelah 30 hari, lidahnya menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis. Bahkan, segelas anggur merah nan dia minum di hari ke-25 terasa lebih seperti permen kapas.

"Kue cokelat chip terasa terlalu manis, saya apalagi tidak bisa menghabiskan bagian saya," tuturnya.

Meski begitu, Kimberly tentunya mengalami banyak tantangan saat tidak mengonsumsi gula selama 30 hari. Di fase awal, dia merasa mudah marah (cranky), terasa tak ada energi, hingga susah fokus.

"Saya juga mudah marah, nan membikin pekerjaan menjadi sulit. Fase ini berjalan sekitar 24 jam sebelum akhirnya membaik," beber Kimberly.

Menurut Kimberly, menghindari gula sangat sulit. Banyak produk mengandung gula dengan nama berbeda, seperti sirup alias sari tebu nan diuapkan.

Ketika menerapkan style hidup ini, Kimberly juga susah untuk makan di luar, seperti di restoran. Ia kudu ekstra hati-hati dalam memilih makanan.

Menu nan menurutnya paling kondusif adalah salad, lantaran dia tetap bisa mengontrol bahan dan sausnya. Bahkan, Kimberly terpaksa kudu menolak makanan manis di aktivitas nan dihadirinya.

Solusinya, dia memilih jujur kepada teman-temannya soal tantangan nan sedang dijalani.

Meski Kimberly tidak beriktikad berakhir total selamanya, pengalaman ini membuatnya lebih bijak dalam mengonsumsi gula. Kini, dia mencoba membatasi gula tambahan, lebih memilih sumber gula alami, hingga mengatur konsumsi gula hanya di waktu tertentu.

Ia juga menilai tantangan ini membuka mata tentang kebiasaan makan sehari-hari.

"Ini adalah langkah nan membuka mata untuk memahami seberapa banyak gula nan sebenarnya Anda konsumsi," pungkasnya.

Saksikan Live DetikSore:

(sao/kna)

Sumber detik-health