Jakarta -
Hubungan jual beli antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa kembali berada di fase krisis. Terbaru, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bakal meningkatkan tarif impor mobil dan truk asal Uni Eropa (UE) dari sebelumnya 15% menjadi 25%.
Pernyataan mengenai tarif disampaikan Trump di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Uni Eropa mengenai perang di Iran, dan penolakan negara-negara benua biru untuk ikut mengirim angkatan laut guna membuka Selat Hormuz.
Ia berdasar Eropa tak mematuhi kesepakatan jual beli dengan AS. Tarif ini direncanakan bertindak mulai minggu depan, namun tidak disampaikan lebih rinci waktu penetapannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan kebenaran bahwa Uni Eropa tidak mematuhi perjanjian perdagangan nan telah kita sepakati sepenuhnya, minggu depan saya bakal meningkatkan tarif nan dikenakan kepada Uni Eropa untuk mobil dan truk nan masuk ke Amerika Serikat," tulis Trump dalam unggahan akun di media sosial resminya, dikutip dari Reuters, Sabtu (2/5/2026).
Sampai saat ini Trump tak juga memberikan rincian spesifik mengenai poin kesepakatan mana nan dianggap telah dilanggar Brussel. Namun dia memberi isyarat mengenai pemindahan pabrik otomotif dari Uni Eropa ke AS.
"Sudah dipahami dan disepakati sepenuhnya jika mereka memproduksi mobil dan truk di Pabrik-pabrik di AS, TIDAK AKAN ADA TARIF," jelasnya lagi.
Dalam kesempatan terpisah, Trump menegaskan bahwa dengan adanya patokan tarif nan lebih tinggi, produsen mobil Eropa mau tak mau kudu bergerak lebih sigap untuk memindahkan pabrik mereka ke AS.
"Kita mempunyai kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa. Mereka tidak mematuhinya. Jadi, saya meningkatkan tarif mobil dan truk menjadi 25%, itu berfaedah miliaran dolar masuk ke Amerika Serikat, dan itu memaksa mereka untuk mempercepat produksi pabrik mereka," katanya di Gedung Putih.
Di sisi lain, langkah tersebut tentu menuai kecaman keras dari politisi dan golongan perdagangan Uni Eropa. Bahkan seorang ahli ekonomi Eropa menyerukan kepada Brussel dan pemerintah Jerman untuk menunjukkan ketegasan dan memberlakukan tarif balasan.
Sementara itu, Komisi Eropa dengan sigap menolak klaim Trump tersebut. Mereka juga mengatakan bakal selalu membuka semua opsi untuk melindungi kepentingan Eropa jika AS melanggar ketentuan perjanjian tersebut.
(igo/ara)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·