SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggandeng perusahaan besar swasta (PBS) sebagai mitra strategis dalam menjalankan program Sistem Integrasi Sapi-Sawit (SISKA). Program ini diharapkan bisa memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian pemenuhan protein hewani di daerah.
Langkah awal dilakukan melalui rapat koordinasi berbareng sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit, guna menjajaki potensi kerja sama sekaligus mempersiapkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah wilayah dan pihak PBS.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Yephi Hartady Periyanto, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan tindak lanjut dari pengarahan pemerintah provinsi. Sebelumnya, pemerintah provinsi telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan serta Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
“Dari provinsi itu diminta untuk ditindaklanjuti oleh masing-masing kepala daerah. Maka kami di kabupaten juga bakal melaksanakan MoU dengan PBS, lantaran potensi pengembangan program ini sangat besar, terutama di Kalteng nan mempunyai banyak perusahaan sawit,” ujarnya, Sabtu 11 April 2026.
Menurut Yephi, momentum ini juga berangkaian dengan pembahasan mengenai Evaluasi Perkebunan Kelapa Sawit Masyarakat Sekitar (EPKMS) nan kerap disandingkan dengan tanggungjawab plasma 20 persen. Ia menegaskan bahwa EPKMS mempunyai cakupan nan lebih luas dibandingkan plasma.
“Kalau plasma itu konsepnya lebih kepada pembagian lahan. Tapi EPKMS ini lebih luas, kita bicara pengembangan sentra produksi, kemitraan usaha, hingga sektor ekonomi lainnya. Termasuk peternakan sapi nan juga bisa memberikan untung bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menilai, program SISKA menjadi kesempatan untuk menggeser pola pikir masyarakat nan selama ini condong berfokus pada plasma. Melalui integrasi sapi dan sawit, masyarakat dapat memperoleh pengganti upaya nan berkepanjangan dan berbobot ekonomi.
“Tidak hanya kebun, tapi bisa juga diarahkan ke peternakan. Misalnya PBS membantu pengadaan ternak, kemudian dikelola oleh koperasi alias golongan tani. Ini bisa menjadi corak kemitraan baru nan lebih produktif,” katanya.
Dari sisi kebutuhan daerah, Yephi menegaskan bahwa program ini sangat krusial mengingat Kotim merupakan salah satu kabupaten dengan jumlah masyarakat besar dan konsumsi protein hewani nan tinggi.
“Harapannya, kebutuhan protein bisa dipenuhi dari produksi lokal, sehingga kita tidak terlalu berjuntai dari luar daerah,” ucapnya.
Ia juga mengakui bahwa sebagian PBS sebenarnya telah menjalankan program serupa, namun belum terpantau secara optimal, khususnya oleh bagian peternakan. Selama ini, laporan perusahaan lebih banyak masuk ke sektor perkebunan.
“Padahal jika terlapor juga di bagian peternakan, kami bisa menyusun strategi pengembangan nan lebih terarah untuk mendukung swasembada protein,” ungkapnya.
Data Dinas Pertanian mencatat, luas areal perkebunan PBS di Kotim mencapai sekitar 400 ribu hektare, dengan 40 murni di Kotim dan 16 wilayahnya masuk kabupaten lain, total 56 perusahaan.
Dari jumlah tersebut, pihaknya menargetkan setidaknya 20 perusahaan dapat aktif menjalankan kemitraan SISKA pada tahun pertama. Saat ini, diperkirakan sudah ada lebih dari 10 perusahaan nan mulai menjalankan program tersebut dengan skala berbeda.
“Target kami tidak muluk-muluk, jika 20 PBS sudah aktif di tahun pertama itu sudah sangat baik. Sekarang sudah ada belasan nan berjalan, meski skalanya tetap bervariasi, ada baru 10 alias 20 apalagi ratusan ada,” tuturnya.
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa program SISKA tidak hanya berakibat pada hulu produksi, tetapi juga pada stabilitas nilai di sektor hilir. Dengan kesiapan stok daging nan cukup, nilai di pasaran diharapkan lebih terkendali.
“Kalau stok tersedia, kita bisa mengendalikan harga. Seperti beras nan sekarang relatif stabil lantaran ada pola penyerapan. Harapannya, daging juga bisa seperti itu ke depan,” tandasnya.
Melalui kerjasama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, program SISKA diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan kesejahteraan sekaligus ketahanan pangan di Kotim. (Nardi)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·