Aktivitas doomscrolling lebih banyak memberikan akibat negatif, terutama untuk kesehatan mental. Meski demikian, scrolling social media membikin Anda mengetahui perkembangan buletin terkini.
Terkait kejadian tersebut, Dr. Aditi Nerurkar, seorang pengajar di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School mengatakan bahwa setiap perseorangan perlu tetap terinformasi, tapi bukan dengan mengorbankan kesehatan mentalnya.
Jadi, diperlukan strategi untuk menciptakan batas digital sehingga kesehatan bentuk dan mental terjaga. Dilansir JawaPos.com (grup prokalteng.co) dari harvardhealthpublishing pada Kamis (23/4), berikut ini sembilan strategi menghentikan kecanduan doomscrolling nan terbukti sukses menurut ahli.
- Jauhkan Ponsel dari Meja Samping Tempat Tidur
Bukan berfaedah ponsel Anda tidak boleh ada di bilik tidur, hanya saja menjauhkan ponsel dari jangkauan Anda, sehingga Anda tidak secara kompulsif meraihnya saat bangun tidur.
Dengan demikian, Anda bakal membiasakan diri bangun dengan cahaya, memandang pasangan tidur Anda, pergi ke bilik mandi dan menyikat gigi, serta menciptakan penyangga terhadap respons stres. Hal nan paling penting, stres akibat kecanduan doomscrolling bakal berkurang, demikian nan diungkapkan Dr. Nerurkar.
- Lakukan Hal nan Sama di Ruang Kerja
Terapkan kebiasaan pertama di ruang kerja Anda. Anda dapat meletakkan ponsel di laci meja alias 10 kaki alias lebih jauh dari tempat Anda berada selama jam kerja.
- Jangan Membawa Ponsel ke Meja Makan
Jauhkan ponsel lebih dari jangkauan lengan Anda dan atur ke mode senyap.
- Ubah Layar Ponsel ke Tampilan Abu-Abu (Grayscale)
Mengubah tampilan ke grayscale alias mengurangi tingkat saturasi warna di layar ponsel.
Tampilan layar nan seperti itu secara otomatis membikin aktivitas menggulir layar kurang menarik, sehingga bakal mengurangi intensitas doomscrolling Anda.
- Nonaktifkan Notifikasi
Dr. Nerurkar mengungkapkan, menonaktifkan notifikasi sama halnya membangun beberapa batasan. Lebih lanjut, Dr. Nerurkar membujuk Anda merenung, ‘Apakah Anda nan menggunakan perangkat ataukah perangkat nan menggunakan Anda?’.
- Fokus pada Berita Komunitas (Lokal)
Berita utama lokal condong optimis dan lebih menggembirakan. Jadi, tetaplah berada di lingkungan tempat Anda tinggal, demikian nan dikatakan Dr. Richard Mollica, seorang guru besar psikiatri di Harvard Medical School.
- Katakan Saja Tidak
Katakan kepada semua orang nan membagikan cerita-cerita menyedihkan alias penuh kekerasan bahwa Anda tidak tertarik. Ini berfaedah Anda memegang kendali pada hidup Anda sendiri dan tidak menyerahkan kekuatan Anda pada orang lain.
- Fokus pada Hal-Hal Baik
Dr. Mollica menyarankan Anda nan kecanduan doomscrolling untuk berbagi pengalaman emosional positif dengan orang lain, misalnya menjadi sukarelawan di badan amal.
Anda juga dapat mengikuti aktivitas nan membebaskan emosi, seperti kelas tari alias jalan-jalan di alam.
- Konsultasi Dokter
Terakhir, jika strategi di atas tidak berhasil, Anda perlu konsultasi dengan dokter. Dr. Mollica mengatakan jika sebagian mini orang betul-betul memerlukan support ahli untuk masalah tertentu nan sangat susah mereka atasi sendiri.(jpc)
Aktivitas doomscrolling lebih banyak memberikan akibat negatif, terutama untuk kesehatan mental. Meski demikian, scrolling social media membikin Anda mengetahui perkembangan buletin terkini.
Terkait kejadian tersebut, Dr. Aditi Nerurkar, seorang pengajar di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School mengatakan bahwa setiap perseorangan perlu tetap terinformasi, tapi bukan dengan mengorbankan kesehatan mentalnya.
Jadi, diperlukan strategi untuk menciptakan batas digital sehingga kesehatan bentuk dan mental terjaga. Dilansir JawaPos.com (grup prokalteng.co) dari harvardhealthpublishing pada Kamis (23/4), berikut ini sembilan strategi menghentikan kecanduan doomscrolling nan terbukti sukses menurut ahli.
- Jauhkan Ponsel dari Meja Samping Tempat Tidur
Bukan berfaedah ponsel Anda tidak boleh ada di bilik tidur, hanya saja menjauhkan ponsel dari jangkauan Anda, sehingga Anda tidak secara kompulsif meraihnya saat bangun tidur.
Dengan demikian, Anda bakal membiasakan diri bangun dengan cahaya, memandang pasangan tidur Anda, pergi ke bilik mandi dan menyikat gigi, serta menciptakan penyangga terhadap respons stres. Hal nan paling penting, stres akibat kecanduan doomscrolling bakal berkurang, demikian nan diungkapkan Dr. Nerurkar.
- Lakukan Hal nan Sama di Ruang Kerja
Terapkan kebiasaan pertama di ruang kerja Anda. Anda dapat meletakkan ponsel di laci meja alias 10 kaki alias lebih jauh dari tempat Anda berada selama jam kerja.
- Jangan Membawa Ponsel ke Meja Makan
Jauhkan ponsel lebih dari jangkauan lengan Anda dan atur ke mode senyap.
- Ubah Layar Ponsel ke Tampilan Abu-Abu (Grayscale)
Mengubah tampilan ke grayscale alias mengurangi tingkat saturasi warna di layar ponsel.
Tampilan layar nan seperti itu secara otomatis membikin aktivitas menggulir layar kurang menarik, sehingga bakal mengurangi intensitas doomscrolling Anda.
- Nonaktifkan Notifikasi
Dr. Nerurkar mengungkapkan, menonaktifkan notifikasi sama halnya membangun beberapa batasan. Lebih lanjut, Dr. Nerurkar membujuk Anda merenung, ‘Apakah Anda nan menggunakan perangkat ataukah perangkat nan menggunakan Anda?’.
- Fokus pada Berita Komunitas (Lokal)
Berita utama lokal condong optimis dan lebih menggembirakan. Jadi, tetaplah berada di lingkungan tempat Anda tinggal, demikian nan dikatakan Dr. Richard Mollica, seorang guru besar psikiatri di Harvard Medical School.
- Katakan Saja Tidak
Katakan kepada semua orang nan membagikan cerita-cerita menyedihkan alias penuh kekerasan bahwa Anda tidak tertarik. Ini berfaedah Anda memegang kendali pada hidup Anda sendiri dan tidak menyerahkan kekuatan Anda pada orang lain.
- Fokus pada Hal-Hal Baik
Dr. Mollica menyarankan Anda nan kecanduan doomscrolling untuk berbagi pengalaman emosional positif dengan orang lain, misalnya menjadi sukarelawan di badan amal.
Anda juga dapat mengikuti aktivitas nan membebaskan emosi, seperti kelas tari alias jalan-jalan di alam.
- Konsultasi Dokter
Terakhir, jika strategi di atas tidak berhasil, Anda perlu konsultasi dengan dokter. Dr. Mollica mengatakan jika sebagian mini orang betul-betul memerlukan support ahli untuk masalah tertentu nan sangat susah mereka atasi sendiri.(jpc)
1 minggu yang lalu


English (US) ·
Indonesian (ID) ·