SAMPIT – Antrean bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan kecamatan terpantau tetap panjang dan mengular dalam beberapa hari terakhir.
Biasanya hanya antrean Bio Solar nan terjadi namun sekarang bhkan, tak hanya mobil alias truk, antrean kendaraan roda dua hingga menyantap badan jalan dan mengganggu arus lampau lintas terjadi.
Kondisi ini memicu tanda tanya dari masyarakat mengenai pernyataan pihak Pertamina nan sebelumnya menyebut bahwa stok BBM dalam kondisi aman. Warga menilai klaim tersebut tidak sesuai dengan realita nan terjadi di lapangan. Warga terlihat resah apalagi sepanjang dua tahun terkahir ini dinilai sebagai antrean BBM terparah pasalnya hingga meluber ke jalan raya.
Selama ini juga pelangsir dinilai sebagai biang kerok. Namun di lapangan pengantre Pertamax dan Pertalite rata-rata penduduk biasa nan untuk kebutuhan kendaraan harian mereka.
Sebelumnya Pertamina juga sudah menegaskan bahwa aktivitas pelangsiran bukan ranah mereka namun ranah penegak hukum, tugas Pertamina hanya memastikan stok BBM aman. Namun tugas ini dinilai kandas oleh masyarakat.
Salah seorang warga, Indra Septian mengungkapkan bahwa antrean BBM saat ini sudah melewati pemisah kewajaran. Ia menyebut, sebelumnya masyarakat tetap bisa memaklumi antrean panjang pada jenis Bio Solar, namun sekarang nyaris semua jenis BBM mengalami kondisi serupa.
“Antrean BBM di kota ini sudah melewati pemisah wajar. Kalau sebelumnya orang tetap maklum saat Bio Solar mengular, sekarang semua ikut kena. Pertalite antre, Pertamax juga sama. Tidak ada lagi pilihan aman,” ujarnya, Jumat 1 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa BBM susah diperoleh, meskipun secara info disebutkan tersedia. Hal ini menimbulkan kesan adanya ketidaksesuaian antara laporan pengedaran dan kondisi riil di masyarakat.
“Sampit hari ini tidak kekurangan BBM di atas kertas. Tapi di jalan, ceritanya berbeda. Kuota disebut aman, sementara masyarakat tetap kesulitan. Artinya, ada nan tidak nyambung antara nomor dan kenyataan,” tambahnya.
Antrean Merata SPBU di Kotim
KELUHAN serupa juga disampaikan penduduk lainnya, Yahdian. Ia menilai antrean panjang tidak hanya terjadi di satu SPBU, melainkan nyaris merata di sejumlah titik di Sampit.
“Ini tidak hanya satu SPBU saja, tapi rata-rata begitu. Kalau dibilang stok aman, tidak mungkin antrean sepanjang ini. Kemungkinan sempat terjadi kekosongan dan ada SPBU nan tutup, sehingga saat buka terjadi penumpukan,” katanya.
Ia juga menegaskan, andaikan pengedaran melangkah lancar dan SPBU beraksi normal, maka antrean panjang seperti saat ini semestinya tidak terjadi.
“Kalau stok betul-betul kondusif dan SPBU buka normal, antrean tidak bakal menumpuk begini. Ini pasti ada nan lenyap sebelumnya, makanya saat BBM tersedia langsung diserbu,” tandasnya.
Ia juga menyebut ini bukan akibat dari kenaikan bahan bakar, lantaran antrean terjadi nyaris di semua bahan bakar nan dibutuhkan masyarakat.
DPRD dan Aparat Harus Bersikap Tegas
KETUA Aliansi Pemuda Kotawaringin Timur Anton Al Sudani menilai ada nan tidak beres soal pengedaran kepada SPBU. Karena beberapa hari ini terlihat seperti ada pembatasan.
“Biasanya jika pengisian Pertamax buka Pertalite juga buka. Ini tidak, mereka buat buka tutup dan ini duit kami lihat jadi masalah antrean panjang,' tegasnya.
Anton mendesak agar Pertamina tidak memandang ini sebagai masalah biasa. Harus sigap diatasi sebelum di lapangan semua terganggu.
“Kami minta DPRD jangan hanya koar-koar tapi turun lapangan. Jangan hanya panggil Pertamina disebut kondusif mereka sudah percaya,” tegasnya.
Begitu juga kata dia dengan abdi negara penegak hukum, jangan hanya menyasar pelangsir nan bawa dua tiga jeriken saja, tapi bongkar jika memang di sini ada permainan baik itu pertamina, SPBU alias apalagi ada penimbun dalam skala besar,” tandasnya. (Nardi)
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·