Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat (AS) telah menggunakan backdoor alias jaringan botnet nan telah ditanam sebelumnya untuk melumpuhkan perangkat jaringan internet mereka. Pakar menyebut kejadian tersebut jadi pengingat bakal peledak waktu internet alias ancaman serangan siber serupa di Indonesia.
Direktur The Indonesia Intelligence Institute Ridlwan Habib mengingatkan bahwa dugaan sabotase siber ini kudu menjadi peringatan keras bagi Indonesia.
Insiden tersebut membuka mata bumi tentang sungguh rentannya prasarana telekomunikasi negara terhadap skenario serangan siber tersembunyi nan bisa diaktifkan kapan saja pada momen kritis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa nan menimpa Iran adalah wake-up call nan sangat nyata bagi keamanan nasional kita. Fakta bahwa perangkat dari vendor raksasa seperti Cisco, Juniper, Fortinet, hingga MikroTik diduga kuat disusupi botnet alias peledak waktu firmware sangat relevan dengan situasi di tanah air," ujar Ridlwan kepada CNNIndonesia.com, Minggu (26/4).
"Harus kita akui, tulang punggung prasarana telekomunikasi dan objek vital nasional di Indonesia saat ini tetap sangat berjuntai pada perangkat-perangkat keras impor tersebut," tambahnya.
Menurut Ridlwan, potensi ancaman serupa sangat mungkin menimpa Indonesia jika tidak ada mitigasi nan agresif.
Pengamat intelijen dan keamanan ini mengatakan kegagalan perangkat nan secara mendadak alias melakukan reboot saat serangan militer terjadi di Iran, membuktikan bahwa sabotase di era modern bisa disiapkan sejak tahap manufaktur alias rantai pasok distribusi.
"Negara tidak boleh lagi sekadar berasumsi bahwa perangkat nan dibeli dari vendor ternama dunia otomatis bersih dari ancaman. Upaya antisipasi absolut nan kudu diambil oleh pemerintah adalah melakukan audit keamanan siber secara menyeluruh," tuturnya.
Ia menekankan pentingnya penemuan anomali jaringan secara proaktif untuk memburu botnet nan mungkin sedang tertidur (dormant) di dalam server-server krusial kementerian, lembaga, maupun sektor esensial swasta.
Singgung RUU KKS
Terkait upaya negara menjawab tantangan nan semakin kompleks ini, Ridlwan menilai bahwa Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) nan saat ini sedang dibahas di DPR merupakan instrumen dan solusi strategis nan sangat krusial.
Regulasi ini menjadi fondasi norma nan kuat untuk membangun kemandirian dan memaksa ekosistem teknologi di Indonesia tunduk pada standar keamanan nasional.
"UU KKS secara langsung dan komprehensif menjawab tantangan peperangan asimetris ini. Dengan payung norma tersebut, negara mempunyai otoritas penuh untuk memformulasikan kebijakan tata kelola risiko, termasuk mewajibkan vendor asing mematuhi standar sertifikasi nan ditetapkan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sebelum perangkat mereka diizinkan beraksi di objek vital nasional," tegasnya.
Lebih lanjut, Ridlwan menekankan bahwa UU KKS mengeliminasi tumpang tindih kewenangan antar-lembaga dan menciptakan rantai komando penanganan krisis siber (cyber crisis management) nan jelas.
Ketegasan struktural tersebut, tambah Ridlwan, sangat diperlukan agar Indonesia tidak lumpuh dan bingung saat menghadapi skenario pemutusan akses berskala besar akibat sabotase pihak luar.
"Pertahanan siber kita kudu bergeser dari reaktif menjadi antisipatif. Melalui penerapan penuh UU KKS, sinergi lintas lembaga seperti BSSN, BIN, abdi negara penegak hukum, dan TNI mempunyai injakan nan kokoh untuk menetralisir ancaman backdoor maupun botnet sebelum pihak asing menekan tombol lumpuhnya," katanya.
Ia menekankan UU KKS adalah perisai utama untuk memastikan bahwa kedaulatan digital dan ketahanan internet Republik Indonesia tidak bisa disandera oleh dinamika geopolitik negara mana pun.
Sebelumnya, kejadian Internet di Iran lumpuh diklaim terjadi bertepatan dengan serangan militer beberapa waktu terakhir. Tudingan ini awalnya dilaporkan oleh media Fars nan lampau diamplifikasi oleh media China.
Tudingan tersebut menyoroti gimana kegagalan perangkat keras terus terjadi meskipun Iran pada saat itu tetap terputus dari jaringan internet global.
Menurut laporan dari Fars dan Entekhab, Iran meyakini bahwa gangguan tersebut mengindikasikan adanya sabotase nan terencana, bukan sekadar masalah teknis biasa.
Salah satu teori menyebut bahwa kode rawan telah disisipkan ke dalam firmware alias bootloader dan diaktifkan pada waktu nan telah ditentukan; teori lainnya menyatakan bahwa botnet rahasia telah ditanamkan pada perangkat nan terkena akibat dan diaktifkan selama serangan berlangsung.
(dal/lmy/dal)
Add
as a preferred source on Google
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·