Saat Investor Asing Ragu, Bank Malaysia Sebut Ini Waktu Emas Masuk Ri

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Bank terbesar kedua di Malaysia, CIMB Group Holdings, menilai ini merupakan waktu nan tepat untuk berinvestasi di Indonesia meski saat ini kepercayaan penanammodal asing terhadap negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu sedang merosot.

"Bagi penanammodal nan memandang potensi jangka panjang di Indonesia, tentu ini adalah waktu nan tepat untuk masuk," kata CEO CIMB, Novan Amirudin, dalam sebuah wawancara Bloomberg TV, dikutip Rabu (10/6/2026).

Optimisme CIMB ini muncul di tengah tantangan nan sedang dihadapi Indonesia dalam menarik kembali minat investor, terutama penanammodal asing nan sempat 'kabur' lantaran kekhawatiran atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto nan dinilai semakin populis dan intervensionis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekhawatiran tersebut semakin meningkat ketika bentrok di Timur Tengah mendorong kenaikan biaya subsidi energi. Kondisi itu berpotensi semakin mengganggu ketahanan fiskal negara.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun hingga Selasa (9/6) tercatat sudah merosot lebih dari 8%. Hal itu menjadikan rupiah sebagai mata duit dengan keahlian terburuk di Asia.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tercatat turun hingga 35% sepanjang tahun ini, meski dalam dua hari terakhir sudah kembali menguat. Kondisi ini dinilai membikin nilai saham domestik menjadi semakin murah untuk dibeli.

Atas dasar itulah bank asal Malaysia nan mengoperasikan CIMB Niaga di Indonesia sedang mempertimbangkan untuk melakukan merger dan akuisisi (merger and acquisition/M&A) beragam aset guna melengkapi lini upaya perbankan nan sudah ada, termasuk di sektor pengelolaan kekayaan alias wealth management.

"Kami juga mungkin bakal mempertimbangkan bidang-bidang unik tertentu nan saat ini belum kami miliki," kata Novan.

Selain CIMB, Malayan Banking Bhd. (Maybank) selaku bank terbesar di Negeri Jiran juga menilai operasional di Indonesia bakal menjadi salah satu kontributor krusial bagi pertumbuhan perbankan dalam jangka menengah hingga panjang.

CEO Maybank, Khairussaleh Ramli, menilai sampai saat ini perekonomian Indonesia tetap berada dalam jalur pertumbuhan. Namun, dia juga tidak memungkiri adanya sejumlah tantangan nan kudu dihadapi di lapangan.

"Kami tetap dapat melayani pengguna kami di sana, tetapi, Anda tahu, memahami tantangan nan sedang dihadapi," katanya dalam wawancara terpisah.

(igo/fdl)

Sumber finance