Christie Stefanie | CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 20:00 WIB
Review Salmokji: Aspek teknis jadi kunci membangun ketegangan, tapi tak didukung naskah nan baik sehingga kengeriannya sigap hilang. (The Lamp/Showbox)
Christie Stefanie
Review Salmokji: Aspek teknis jadi kunci membangun ketegangan, tapi tak didukung naskah nan baik sehingga kengeriannya sigap hilang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Salmokji: Whispering Water alias Salmokji sebenarnya punya modal kuat untuk menjadi movie seram nan betul-betul meneror mental dan menyeramkan, bukan sekadar mengandalkan jump scare nan bikin kaget sesaat.
Namun, modal dan potensi besar itu terasa seperti dibuang cuma-cuma di meja penyuntingan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspektasi saya telanjur melambung saat memandang catatan box office-nya di Korea Selatan. Film ini sukses menggulingkan kekuasaan The King's Warden dan Project Hail Mary saat debut.
Bahkan dalam hitungan hari, movie dibintangi Kim Hye-yoon dan Lee Jong-won ini bisa menyalip perolehan Gonjiam: Haunted Asylum sebagai movie seram murni, bukan occult alias sebagainya.
Tapi sayangnya, angka-angka mentereng itu justru menjadi pil pahit nan kudu saya telan pelan-pelan sepanjang lama film.
Sutradara sekaligus penulis naskah Lee Sang-min memang tampak tidak mau bertele-tele. Sejak menit awal, penonton langsung dilempar ke inti masalah nan dihadapi karakter utama.
Mengingat durasinya nan hanya sekitar 95 menit, saya dihadapkan pada realita bahwa tidak bakal menemukan pendalaman karakter nan emosional. Tidak ada ruang untuk itu.
Nilai jual utama movie ini murni terletak pada rentetan kejutan tanpa jarak nan mengusung folk-horror surealis, kaburnya batas antara ilusi dan realita, dan ketegangan misterius nan tuntas dalam satu malam saja.
Salmokji memang tidak menawarkan sesuatu nan baru dalam cerita di mana para karakternya terjebak di satu tempat angker.
Namun, secara teknis, movie ini jadi seram nan cukup rapi untuk membikin penonton tetap waspada, meski di saat nan sama sering kali membikin bingung lantaran movie ini enggan memberikan jawaban nan gamblang.
Kejutan nan ditawarkan sang sutradara dalam mempermainkan persepsi penonton setidaknya cukup bisa menutupi sedikit untuk bagian-bagian movie nan kurang mengesankan.
Review Salmokji: Kengerian alias seram dalam movie ini sangat berjuntai kuat pada setting dan unsur teknis. (The Lamp/Showbox)
Satu perihal nan wajib saya beri apresiasi adalah urusan teknis dan setting-nya. Secara visual dan audio, Salmokji tampil sangat ciamik.
Apresiasi tinggi perlu saya berikan kepada Kim Sung-an selaku sinematografer. Penggunaan konsep gambaran street-view sebagai perangkat utama penggerak plot dieksekusi dengan sangat bagus, baik dalam cerita maupun pengambilan gambarnya.
Pengambilan gambar dengan perspektif pandang kamera fish eye juga memberikan sensasi visual nan sangat unik sekaligus tidak nyaman.
Selain sinematografi, kekuatan utama seram dalam movie ini justru lahir dari kreasi suaranya. Bunyi bebatuan nan saling beradu, termasuk bunyi dari batu nan memantul di atas air sukses membangun rasa resah bagi penonton.
Sepanjang menonton, konsentrasi saya terhisap pada audio membangun ketegangan apalagi untuk segmen nan secara visual belum terjadi apa-apa.
Berkat scoring dan sound itu lah penonton mungkin secara tidak sadar sudah bersiap menghadapi sesuatu teror alias jump scare nan hendak muncul. Situasi tersebut menjadi bagian paling menarik dari movie ini.
Namun secara narasi, ada banyak celah dalam skrip nan sebenarnya bisa dikembangkan ke arah nan lebih dalam, namun Sang-min seperti memilih jalan pintas.
Niatnya sangat jelas, ialah mau menyajikan sebanyak mungkin skenario nan membikin penonton kaget melalui jump scare. Tak ada nan salah dengan itu, asalkan ceritanya ditulis dengan rapi dan jelas sehingga kejutan-kejutan tersebut tidak terasa murahan.
Kelemahan terbesar movie ini tetap pada cerita dan minimnya penulisan karakter, terutama di sekitar Han Su-in nan diperankan Kim Hye-yoon.
Ia sebenarnya memberikan performa nan baik dan menunjukkan transisi nan berani dari perannya setelah sangat sukses lewat drama romansa khayalan terkenal Lovely Runner.
Sayangnya, Han Su-in tidak diberikan latar belakang nan cukup kaya untuk memperkuat perjalanannya. Tanpa itu, dia tetap terlihat pasif dan kandas menjadi kekuatan nan menggerakkan narasi.
Ada pula beberapa perbincangan nan memberi kode jika dia punya bentrok apalagi masa lampau nan rumit dengan Woo Gyo-sil (Kim Jun-han) alias Yoon Ki-tae (Lee Jong-won).
Tapi, sekali lagi, sayangnya semua itu hanya lewat begitu saja dalam perbincangan singkat tanpa pernah dieksplorasi lebih jauh.
Padahal, jika Sang-min mau meluangkan sedikit waktu untuk membangun keterikatan pada karakter tersebut, terutama pada Yoon Ki-tae nan sesungguhnya memegang peran kunci, akibat dari kejutan di akhir movie pasti bakal terasa jauh lebih meledak.
Review Salmokji: Minimnya backstory dari seluruh karakter, ditambah dengan kaburnya batas antara ilusi dan realita membikin movie ini membingungkan, dan minim kengerian. (The Lamp/Showbox)
Situasi lain nan saya sayangkan adalah ada beberapa bagian nan sesungguhnya menjadi plot twist tidak dikembangkan maksimal menjadi suatu segmen nan betul-betul mengerikan, sehingga jadi terasa missed the point.
Kekecewaan saya makin komplit lantaran info mengenai ibu alias nenek misterius apalagi hantu nan menjadi sumber utama keangkeran di sini teramat minim.
Sangat disayangkan, padahal Salmokji sudah punya fondasi kuat untuk menggali lebih dalam soal hantu air nan secara urban legend memang dikenal sebagai salah satu entitas paling menyeramkan.
Minimnya info ini apalagi membikin saya secara pribadi merasa pemimpin Han Su-in di instansi justru lebih meneror dibandingkan hantunya itu sendiri.
Pada akhirnya, Salmokji adalah movie seram nan berjuntai kuat pada aspek teknis dalam membangun ketegangan.
Film tersebut sukses menebar kejutan nan mengagetkan, namun alih-alih mendapatkan seram nan substansial, penonton hanya diberi kengerian permukaan nan sigap lenyap begitu lampu bioskop menyala.
(chri/chri)
Add
as a preferred source on Google
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·