Review Film: Lee Cronin's The Mummy

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Endro Priherdityo | CNN Indonesia

Rabu, 22 Apr 2026 20:15 WIB

 Sebagai movie reimajinasi kisah klasik, movie ini kreatif. Namun dari perspektif pandang fans The Mummy, movie ini 'kurang'. Review Film Lee Cronin's The Mummy: Sebagai movie reimajinasi kisah klasik, movie ini kreatif. Namun dari perspektif pandang fans The Mummy, movie ini 'kurang'. (dok. Warner Bros Picture via YouTube)

Dari perspektif pandang fans saga The Mummy, movie ini kurang spesial.

Jakarta, CNN Indonesia --

Perlu pertimbangan lebih dalam untuk menyikapi Lee Cronin's The Mummy. Sebagai sebuah movie reimajinasi kisah klasik, movie ini terbilang kreatif. Namun dari perspektif pandang fans saga The Mummy, movie ini kurang spesial.

Lee Cronin sebagai penulis dan sutradara terbilang niat dalam membayangkan kembali kisah saga monster klasik nan sudah acapkali digarap ulang dan diadaptasi tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cronin memikirkan dengan perincian mulai dari latar belakang monster mumi jenis baru ini, gimana bisa terkoneksi dengan bumi modern, hingga teror nan ditimbulkan pada sebuah keluarga.

Cronin juga terlihat lebih inklusif dibanding versi-versi The Mummy sebelumnya. Kali ini, setidaknya budaya Arab dan Mesir bukan hanya sekadar latar belakang dan orang-orangnya bukan hanya ditampilkan sebagai pekerja kasar di piramida.

Hanya saja, Cronin lebih banyak memasukkan unsur supranatural dan sangat mengurangi unsur petualangan dan drama khayalan nan selama ini jadi karakter dari The Mummy jenis Universal Pictures, terutama pada 1999-2017.

Berhubung Lee Cronin's The Mummy juga diproduseri oleh James Wan dan Jason Blum nan merupakan otak di kembali saga seram macam The Conjuring dan Insidious, maka sebenarnya tak heran jika kisah The Mummy di tangan Lee Cronin mengingatkan pada film-film seram terkenal itu.

Hal itu bisa terlihat gimana Cronin merancang formula teror dari monster nan lebih cocok disebut kuasa gelap ini dan dampaknya di sekitarnya. Unsur aktivitas kerasukan, poltergeist, hingga perubahan lingkungan menggambarkan itu semua. Cronin juga lebih banyak menggunakan unsur religi dan body horror dalam filmnya ini.

Sedikit banyak, Lee Cronin's The Mummy memang terlihat seperti kerabat jauh Evil Dead Rise (2023) nan membanjirinya dengan pundi-pundi keuntungan.

Salah satu kemiripan antara dua movie tersebut terlihat dari gimana kamera dimainkan. Cronin jelas mau kembali membawa permainan kamera Dave Garbett nan juga terlibat dalam Evil Dead Rise (2023) dalam sejarah waralaba The Mummy.

Lee Cronin's The Mummy (2026)Review Lee Cronin's The Mummy (2026): Meski perihal itu jadi sensasi baru dalam semesta The Mummy di layar lebar, tak bisa ditampik bahwa aspek itu juga nan membikin Lee Cronin's The Mummy terasa makin jauh dari gambaran kisah waralaba ini. (dok. Warner Bros Picture via YouTube)

Garbett pun menyanggupi tantangan tersebut. Hasilnya, memang sebagian segmen Lee Cronin's The Mummy menjadi lebih mengganggu kenyamanan dibanding nan pernah ditampilkan dalam riwayat waralaba The Mummy.

Meski perihal itu jadi sensasi baru dalam semesta The Mummy di layar lebar, tak bisa ditampik bahwa aspek itu juga nan membikin Lee Cronin's The Mummy terasa makin jauh dari gambaran kisah waralaba ini.

Apalagi plot cerita Lee Cronin's The Mummy dengan kisah original The Mummy (1932) dan turunannya sangat jauh berbeda. Walapun bisa saja ditarik lebih luas dan dicocok-cocokkan, kebenaran di layar lebar berbicara berbeda.

Maka bisa dipahami jika Cronin, Wan, Blum, dan John Keville sebagai produser lainnya lebih memilih menyebut ini sebagai "reimagining" dan mencantumkan nama Cronin di judul, menjadikan movie ini sepenuhnya entitas baru nan 'berdiri sendiri'.

Sayangnya tawaran dari Cronin ini terasa terlalu memaksakan kehendak dan proklamasi sendiri dengan nama "The Mummy". Apalagi naskah nan dia tulis kurang bisa menawarkan kengerian pendapat tersebut, alias justru Cronin kurang bisa mengeksekusi idenya sendiri.

Bagian nan bisa dibilang menyegarkan dari movie ini justru bukan datang dari teror nan disiapkan Cronin, melainkan dari permainan visual dan kamera Garbett, serta kemunculan May Calamawy.

May Calamawy nan berdarah Mesir-Palestina dan membawakan bahasa Arab secara langsung ini memberikan penebalan asal-usul The Mummy, sesuatu nan sebenarnya terasa sebagai kepingan nan lenyap dari cerita nan dimulai sejak 1932 ini.

Lee Cronin's The Mummy (2026)Review Lee Cronin's The Mummy (2026): Tawaran dari Cronin ini terasa terlalu memaksakan kehendak dan proklamasi sendiri dengan nama "The Mummy". (dok. Warner Bros Picture via YouTube)

Bukan hanya Calamawy, sejumlah peran lainnya nan mempunyai latar belakang Timur Tengah seperti Hayat Kamille, May Elghety nan original dari Mesir, serta sejumlah pemain kameo lainnya menambah rasa inklusi tersebut.

Mungkin jika movie ini tidak menggunakan nama The Mummy dan mempertebal aspek mistik dan supranatural, penilaian di atas bakal sepenuhnya berbeda. Sayangnya semua sudah kepalang jadi bubur.

Yang jelas, pendapat Lee Cronin atas The Mummy dalam movie ini mempertegas legasi nan dibuat John L. Balderston, Nina Wilcox Putnam, dan Richard Schayer pada 1932 silam, sekaligus membuka kesempatan baru atas interpretasi ulang sebuah movie klasik.

Lee Cronin, James Wan, Jason Blum, dan John Keville membuktikan bahwa sebuah buahpikiran baru tidak kudu melulu nan tadinya belum pernah ada, dan bisa berangkat dari sebuah cerita legendaris nan terus coba digarap ulang.

Namun perlu diingat, perlu lebih dari sekadar buahpikiran dan teknik sinematik modern dalam produk interpretasi ulang karya legendaris, ialah gimana jiwa cerita original nan membikin penonton jatuh cinta bisa kembali dihadirkan dan karya teranyar itu bukan hanya jadi pemanjang daftar riwayat adaptasinya.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-hiburan