Review Film: Crocodile Tears

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Vandeniar Kennindya | CNN Indonesia

Jumat, 08 Mei 2026 20:00 WIB

 cerita Crocodile Tears bagai buaya nan berenang tapi tak beriktikad mengincar mangsa, hanya melirik mengintai di kembali tenangnya air. Review movie Crocodile Tears: cerita Crocodile Tears bagai buaya nan berenang tapi tak beriktikad mengincar mangsa, hanya melirik mengintai di kembali tenangnya air. (Talamedia)

Terlepas dari beragam catatannya, Crocodile Tears tetap memberikan pengalaman nan berharga.

Jakarta, CNN Indonesia --

Persiapan nan tergolong panjang untuk sebuah movie memang tak menjamin movie itu tak meninggalkan beragam kejanggalan saat ditonton, seperti nan terjadi dengan Crocodile Tears.

Niat Tumpal Tampubolon untuk mengangkat kisah soal hubungan ibu dan anak nan berbalut dengan atmosfer intens dan thrilling, bentrok psikologis, hingga mitologi soal buaya memang terasa menjanjikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi movie ini sudah dikembangkan sejak 2022 dan muter di beragam pagelaran movie internasional nan membikin ekspektasi agak meninggi. Namun eksekusi nan dilakukan Tumpal untuk movie ini terbilang niche dan mungkin bakal susah terhubung untuk banyak penonton awam.

Misalnya adalah dengan penggambaran karakter Mama nan dibawakan oleh Marissa Anita. Lagi-lagi, Anita memerankan karakter nan menunjukkan beragam indikasi gangguan kesehatan mental.

Kali ini, Tumpal menggambarkan Mama sebagai sosok ibu nan berbeda dari kebanyakan gambaran seorang ibu di Indonesia. Kikuk, over protektif, dan menunjukkan beragam gelagat asing nan condong membikin suasana tak nyaman.

Ditambah dengan ilusi nan dialami Mama, sebenarnya cukup membikin karakter nan dibawakan dengan apik oleh Marissa tersebut mempunyai andil besar dalam menentukan atmosfer suasana dan adegannya.

Apalagi, Tumpal secara metaforis meracik cerita soal cinta nan posesif, manipulatif, dan tak biasa ditemukan dalam cerita cinta nan awam. Belum lagi dengan penampilan Yusuf Mahardika nan menjadi musuh Marissa.

Yusuf nan memerankan anak dari Mama, Johan, nan terpikat cinta seorang LC (Lady Companion) berjulukan Arumi nan dibawakan Zulfa Maharani, bisa ikut mempertebal kisah hubungan toksik antara ibu dan anak hingga menyesakkan.

Namun sayangnya style alur slow burn nan dipilih Tumpal melangkah begitu lambat dan mudah ditebak. Belum lagi dengan Tumpal nan memilih untuk membuka penafsiran penonton secara lapang nan membikin movie ini semakin terasa ambigu.

Film Indonesia Crocodile Tears (2024). (Talamedia)Review Film Indonesia Crocodile Tears (2024): eksekusi nan dilakukan Tumpal untuk movie ini terbilang niche dan mungkin bakal susah terhubung untuk banyak penonton awam. (Talamedia)

Ditambah dengan sejumlah bentrok cerita nan terasa kurang tegas dan menggigit, cerita Crocodile Tears bagai buaya nan berenang tapi tak beriktikad mengincar mangsa, hanya melirik mengintai di kembali tenangnya air.

Beruntungnya penampilan Marissa dan Yusuf nan cukup menyedot perhatian dari masalah naskah itu juga terbantu dengan tindakan Zulfa Maharani sebagai Arumi. Karakter pendukung nan dia bawakan terbilang sesuai porsi tapi tetap bisa menggigit kala memantik konflik.

Selain itu, meski mempunyai khayalan cerita ala Ratu Buaya Putih (1988) nan bisa membikin kedua alis saling sapa, atmosfer dalam movie ini memang terbilang sesuai dengan niat dari ceritanya. Apalagi memutuskan untuk syuting di Taman Buaya sungguhan, rasanya ada sedikit penyegaran untuk koleksi movie drama lokal.

Jafar sebagai Production Designer juga mengambil keputusan nan pandai dengan berkeinginan membangun rumah Mama dan Johan di dalam Taman Buaya.

Rumah nan dibangun di dalam area tersebut menciptakan kesan pengap, sempit, dan terisolasi, sekaligus merepresentasikan hubungan keduanya nan penuh tekanan. Lingkungan di luar Taman Buaya nan sunyi juga memperkuat kesan keterasingan dari bumi luar.

Sementara itu, Hagai Pakan dan Ihsiana Magriza di kembali wardrobe serta Agustin Puji dan Cherry Wirawan di kembali meja rias sukses mempertegas rasa sesak nan mau disampaikan lewat tampilan para karakter di dalam cerita ini.

Meski punya cerita nan meninggalkan banyak tanya, Crocodile Tears sebenarnya bukan hanya soal relasi ibu dan anak. Film ini menyoroti cerita perjuangan ibu tunggal kala menghadapi tekanan hidup di usia muda dan dalam kondisi nan terisolasi.

Karakter Mama digambarkan berdiri sendiri tanpa sosok pendukung selain anaknya, sebuah refleksi nan relevan dengan banyak kasus di masyarakat Indonesia.

Sayangnya memang beberapa komponen cerita terasa mubazir lantaran dieksekusi secara tanggung. Padahal pendalaman karakter, khususnya mengenai kondisi psikologis Mama, bisa dieksplorasi lebih jauh untuk memperkuat konflik.

Terlepas dari beragam catatannya, Crocodile Tears tetap memberikan pengalaman nan berharga. Film ini setidaknya menawarkan ruang refleksi tentang makna hubungan, tekanan emosional, serta realitas sosial nan jarang diangkat secara eksplisit.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-hiburan