Christie Stefanie | CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 20:00 WIB
Review Teach You a Lesson: Drama Korea terbaik paruh pertama 2026 lantaran mengemas isu-isu sosial dengan menyenangkan dan tepat sasaran. (Netflix)
Christie Stefanie
Review Teach You a Lesson: Drama Korea terbaik paruh pertama 2026 lantaran mengemas isu-isu sosial dengan menyenangkan dan tepat sasaran.
Jakarta, CNN Indonesia --
Teach You a Lesson bisa dibilang menjadi drama Korea terbaik hingga paruh pertama 2026 lantaran mengemas isu-isu sosial nan selama ini tampak dibiarkan dengan menyenangkan dan tepat sasaran.
Menulis ulasan ini sebenarnya mendatangkan pergolakan tersendiri, mengingat webtoon kontroversial Get Schooled nan menjadi materi aslinya dihentikan total di platform digital akibat polemik konten.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, setelah menyaksikan 10 episodenya, Teach You a Lesson patut mendapatkan pengakuan. Lewat rekam jejaknya di Juvenile Justice, sutradara Hong Jong-chan tamat betul memilah apa saja nan perlu ditampilkan di layar kaca.
Ketimbang memindahkan panel komik secara mentah, dia berbareng tim penulis naskah mengambil langkah berani menurunkan tensi cerita dan memeras komponen krusial dengan tujuan utama: keberpihakan utuh kepada korban.
Hasilnya, Teach You a Lesson menjadi salah satu tontonan nan cerdas, berani, ditulis dengan sangat rapi, dan menawarkan kepuasan jiwa bagi penonton.
Fokus cerita terletak pada anjloknya otoritas pendidikan di tengah maraknya kekerasan pelajar. Menteri Pendidikan Korea Selatan kemudian membentuk Biro Perlindungan Hak Pendidikan (ERPB) nan berkuasa merombak sistem sekolah.
Daya tarik utama nan membikin drama ini begitu mudah dinikmati, apalagi bisa diselesaikan sekali duduk, adalah format penceritaannya. Setiap bagian menghadirkan bentrok nan beda-beda dan langsung tuntas.
Kadang masalahnya perundungan, sering kali keangkuhan orang tua, bisa juga pihak manajemen sekolah nan pengecut, alias nepotisme, dan korupsi. Sering kali, semua kebusukan itu dicampur kombinasi menjadi satu.
Lee Nam-kyu, Kim Da-hee, dan Moon Jong-ho selaku tim penulis seperti sangat menyadari bahwa lembaga pendidikan tidak berdiri sendiri. Sekolah adalah gambaran paling jujur dari kondisi masyarakat sekitarnya serta kegagalan sistemik pemerintahnya.
Sehingga, Teach You a Lesson sukses mengaduk emosi tiap episode. Penonton dipaksa mendidih saat memandang ketidakadilan nan menimpa korban, lampau mendapatkan kelegaan luar biasa saat keadilan akhirnya ditegakkan.
Menariknya, status korban di sini tak melulu disematkan pada guru, tapi orang tua dan juga siswa lainnya bisa saja bernasib serupa. Tidak ada karakter nan absolut suci alias sepenuhnya penjahat, semua dikuliti secara proporsional.
Emosi itu terbangun berkah skrip nan dengan tajam menyoroti realitas pahit ketimpangan sosial ekonomi.
Ada ironi nan disorot jelas, seperti si kaya dan pemegang kuasa bisa dengan enteng mengakali sistem dan mendikte hukum, sementara rakyat mini tanpa bekingan dipaksa bayar nilai paling maha
Kesuksesan mengeksekusi cerita juga tak lepas dari penampilan brilian para pemain, baik nan utama hingga para pendukung.
Review Teach You a Lesson: Kim Mu-yeol berhasil menghidupkan Na Hwa-jin nan begitu berkharisma dan karakter penuh layers. Foto: (Netflix/Kim Ji-yeon)
Kim Mu-yeol jelas memegang kunci utama dengan tampil luar biasa sebagai Na Hwa-jin, mantan personil militer nan sekarang mengabdi di ranah sipil dengan prinsip dan ketegasan mutlak.
Kim Mu-yeol memang tak perlu diragukan lagi untuk memerankan karakter berdarah dingin tanpa kenal ampun, seperti nan sudah dibuktikan dengan menjadi Baek Chang-ki dalam The Roundup: Punishment.
Namun, karakternya sebagai Na Hwa-jin memancarkan karisma laga nan berbeda. Caranya menumpas ketidakadilan di lingkup pendidikan dieksekusi begitu intens, disertai koreografi baku libas dengan estetika setara movie spionase.
Sehingga memang layak rasanya Kim Mu-yeol disebut sebagai Korean John Cena.
Review Teach You a Lesson: Lee Sung-Min berhasil menjadi Choi Gang-seok yang berani pasang badan bagi rakyat.
Performa itu diimbangi ketenangan tokoh veteran Lee Sung-min dalam menghidupkan Choi Gang-seok, menteri ideal kemauan masyarakat lantaran menggunakan kekuasaan dan wewenangnya lurus, tepat sasaran, dan berani.
Meski kebijakan radikalnya mungkin dipantik duka masa lalu, setiap kebijakan nan dia ciptakan sungguh-sungguh ditujukan untuk kemaslahatan orang banyak.
Reuni Kim Mu-yeol dan Lee Sung-min di proyek ini menghasilkan chemistry nan kuat. Momen keduanya saling berbagi rasa kehilangan terasa begitu emosional, saling menopang, dan menjadi konklusi nan menghangatkan hati.
Ada pula Jin Ki-joo nan kembali sukses menarik perhatian dan membuktikan elastisitas aktingnya nan luas. Im Han-rim nan eksentrik dan "freak" jadi begitu menyegarkan dan memancing tawa dengan porsi sudah disesuaikan agar tak sebrutal jenis webtoon.
Hal senada juga untuk Pyo Ji-hoon nan menghidupkan Bong Geun-dae. Meski kehadirannya murni sebagai karakter orisinal baru nan tak ada di webtoon, dia justru menjadi salah satu pemegang kunci dalam menciptakan dinamika tim nan solid dan fungsional.
Review Teach You a Lesson: Pyo Ji-Hoon dan Jin Ki-Joo berhasil menghadirkan karakter nan berbeda dari karya aslinya dengan menciptakan dinamika tim nan solid. Foto: (Netflix/Kim Ji-yeon)
Apresiasi lebih juga patut dialamatkan kepada tim casting. Mereka berani memberi ruang bagi sederet tokoh muda berbakat untuk bercahaya dan sepenuhnya menanggalkan bayang-bayang imej dari proyek mereka sebelumnya.
Satu-satunya catatan kritis serial ini terletak pada nasib para pengawas ERPB nan kerap lolos dari masalah dengan kompetensi nan kelewat sempurna.
Mengingat rumitnya skala bentrok nan mereka urusi, nihilnya akibat politis alias norma jangka panjang nan menjerat mereka kadang terasa terlalu digampangkan oleh naskah.
Di bumi nyata, unit dengan keistimewaan dan kewenangan sebesar itu pasti sudah lenyap dihantam resistensi birokrasi, intervensi politik, hingga gugatan norma massal.
Begitu pula dengan penampilan beberapa tokoh pendukung nan sesungguhnya seperti tidak merepresentasikan usia anak sekolah kebanyakan.
Untungnya, catatan itu tidak sampai merusak keasyikan menonton. Penonton secara sukarela menanggalkan logika logis demi meresapi pesan moral nan mau disampaikan.
Harus digarisbawahi bahwa kekerasan bentuk dalam corak apa pun tidak mempunyai ruang pembenaran di bumi nyata.
Namun, dalam batas fiksi drama ini, kebrutalan "mata tukar mata" mempunyai tujuan naratif nan jelas, ialah menampar sistem nan kandas menghukum tegas pelaku. Hal itu pada dasarnya ikut serta menghancurkan hidup dan masa depan korban.
Teach You a Lesson melalui beberapa episodenya menyelipkan pesan pentingnya mengambil langkah paling awal untuk selamat dan mendapatkan pertolongan adalah dengan berani bersuara meminta tolong.
Sayangnya, teriakan minta tolong para korban di bumi nyata kerap kali bak angin lampau tanpa ada nan sungguh-sungguh mendengar dan mengulurkan tangan, memaksa korban tak bersuara sembari tertatih melangkah melanjutkan hidup.
Sehingga, salah satu perbincangan ikonis dalam serial ini tampaknya memang betul bahwa "a monster can only be take down by another monster."
Pada akhirnya, Teach You a Lesson memang lahir sebagai autokritik terhadap bobroknya sistem pendidikan di Korea Selatan.
Namun, tamparan keras dari tayangan ini sesungguhnya sukses menyentil masalah struktural di banyak negara, tak terkecuali di Indonesia.
(chri/chri)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·