Ramai Pro Kontra Vasektomi, Apa Bedanya Dengan Kebiri?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

CNN Indonesia

Selasa, 07 Apr 2026 20:15 WIB

Media sosial kembali ramai dengan pro-kontra soal vasektomi. Sebagian netizen apalagi menyabut vasektomi sebagai corak 'kebiri'. Ilustrasi. Sebagian orang menganggap vasektomi sebagai salah satu corak 'kebiri'. (istockphoto/schlosann)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Belum lama ini, perbincangan soal vasektomi kembali ramai di media sosial. Salah satunya dipicu oleh unggahan sepasang suami istri nan membagikan keputusan mereka menjalani prosedur tersebut setelah merasa jumlah anak sudah cukup dan mau konsentrasi membesarkannya.

Unggahan itu memantik beragam respons. Ada nan mengapresiasi langkah sang suami sebagai corak tanggung jawab dalam perencanaan keluarga. Namun di sisi lain, tak sedikit pula nan mempertanyakan, apalagi menyayangkan keputusan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian komentar apalagi menyebut vasektomi sebagai corak 'kebiri', nan kemudian memicu perdebatan lebih luas. Padahal, jika dilihat dari sisi medis, dugaan tersebut tidak tepat.

Vasektomi dan kebiri merupakan dua perihal nan sangat berbeda, baik dari tujuan, prosedur, maupun dampaknya bagi tubuh.

Apa itu vasektomi?

Dilansir dari Mayo Clinic, vasektomi adalah prosedur kontrasepsi pada laki-laki dengan langkah memotong alias menutup saluran sperma (vas deferens). Tujuannya adalah agar sperma tidak ikut keluar berbareng cairan mani saat ejakulasi, sehingga mencegah kehamilan.

[Gambas:Twitter]

Prosedur ini tergolong sederhana dan berisiko rendah. Biasanya dilakukan dengan anestesi lokal, tanpa perlu rawat inap, dan pasien bisa pulang di hari nan sama.

Vasektomi juga dikenal sangat efektif, dengan tingkat keberhasilan mendekati 100 persen dalam mencegah kehamilan.

Banyak kekhawatiran muncul soal apa nan terjadi pada tubuh setelah vasektomi, terutama mengenai sperma nan tidak keluar.

Dokter ahli urologi RSCM, Nur Rasyid, menjelaskan bahwa sperma nan tidak dikeluarkan tidak bakal menumpuk di dalam tubuh.

"Dengan berjalannya waktu, sperma itu bakal rusak dan diserap kembali oleh tubuh," ujarnya seperti nan dikutip dari detikhealth.

Penjelasan ini juga sejalan dengan Cleveland Clinic, nan menyebut tubuh secara alami bakal mendaur ulang sel sperma nan tidak terpakai, seperti halnya sel tubuh lainnya.

Berbeda dengan kebiri

Salah satu miskonsepsi nan paling sering muncul adalah dugaan bahwa vasektomi sama dengan kebiri, padahal keduanya sangat berbeda.

Menurut Nur Rasyid, vasektomi hanya menutup jalur keluarnya sperma, bukan menghilangkan kegunaan testis. Artinya, organ penghasil hormon tetap bekerja normal.

"Hormon testosteron tetap diproduksi dan disalurkan melalui darah, jadi tidak terpengaruh," jelasnya.

Berbeda dengan kebiri, nan bermaksud menghentikan kegunaan testis secara total, baik secara bedah maupun kimiawi. Pada kebiri, produksi hormon testosteron bisa hilang, nan berakibat pada libido, kegunaan seksual, hingga perubahan fisik.

Sementara pada vasektomi, laki-laki tetap bisa mengalami ereksi, orgasme, dan ejakulasi seperti biasa, hanya saja tanpa sperma.

Apakah bisa dibatalkan?

Secara teori, vasektomi bisa dibalik melalui prosedur penyambungan kembali saluran sperma. Namun, prosedur ini tidak selalu sukses dan condong lebih rumit serta mahal.

Alternatif lain adalah program bayi tabung (IVF), dengan langkah mengambil sperma langsung dari testis. Karena itu, vasektomi umumnya dianjurkan bagi mereka nan sudah percaya tidak mau mempunyai anak lagi di masa depan.

Umumnya vasektomi termasuk prosedur nan aman. Efek samping nan mungkin terjadi biasanya ringan, seperti nyeri, bengkak, alias memar di area skrotum.

Kasus komplikasi serius tergolong jarang, hanya sekitar 1-2 persen pasien nan mengalami nyeri jangka panjang. Namun, krusial diingat bahwa vasektomi tidak melindungi dari jangkitan menular seksual (IMS), sehingga penggunaan kondom tetap diperlukan dalam kondisi tertentu.

Perdebatan soal vasektomi menunjukkan bahwa tetap banyak kesalahpahaman di masyarakat. Padahal, secara medis, prosedur ini merupakan salah satu metode kontrasepsi nan aman, efektif, dan tidak memengaruhi kejantanan pria.

Akhirnya, keputusan untuk menjalani vasektomi adalah pilihan pribadi nan perlu dipertimbangkan secara matang, baik dari sisi medis, rencana keluarga, maupun kesiapan masing-masing individu.

Namun, nan tak kalah krusial adalah memahami info nan betul bisa membantu mengurangi stigma dan membuka ruang obrolan nan lebih sehat soal kesehatan reproduksi.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-lifestyle