Prospek Biofuel Di Indonesia Saat Peralihan Ke Mobil Listrik

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nan terus meningkat membikin konsumsi daya berbasis fosil semakin besar, sementara minyak bumi berkarakter terbatas dan terus berkurang.

Situasi tersebut akhirnya mendorong banyak pihak mengembangkan sumber daya terbarukan serta ramah lingkungan melalui BBM nabati biodiesel dan bioetanol. Indonesia menerapkan dua biofuel itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk biodiesel, pemerintah saat ini tengah mempersiapkan penggunaan B50 alias biodiesel 50 nan merupakan campuran antara 50 persen solar dan 50 persen minyak nabati. Rencana implementasinya Juli 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan peningkatan kadar campuran minyak sawit tersebut bakal mengalihkan kebutuhan solar ke produksi dalam negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini Indonesia menerapkan B40 nan artinya BBM solar dengan campuran 40 persen minyak sawit.

"Sebelumnya sekarang nan sedang melangkah adalah 40 persen, dan Juli mendatang kita bakal meningkatkannya menjadi 50 persen sehingga kita bisa mencapai situasi di mana kita tidak lagi mengimpor minyak solar lagi," ujar Eniya beberapa waktu lalu.

Tak hanya BBM untuk mesin diesel. Pemerintah saat ini juga mendorong penggunaan bensin dengan campuran etanol, nan saat ini dikenal sebagai bioetanol.

Bensin jenis itu telah dijual di Indonesia melalui Pertamina sejak 2023. Produknya adalah Pertamax Green nan merupakan campuran antara Pertamax dan 5 petsen etanol alias dikenal sebagai E5.

Pemerintah sedang menyusun peta jalan pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin dan etanol, dimulai dari E5 alias 5 persen etanol pada 2026-2027, meningkat menjadi E10 pada 2028-2030, hingga sasaran jangka panjang menuju E20.

Terbaru, Kementerian ESDM bakal mewajibkan pengusaha SPBU swasta mencampur BBM dengan etanol sebesar 5 persen mulai semester II 2026. Tahap awal bakal bertindak di seluruh Pulau Jawa. Eniya mengatakan tanggungjawab ini berasas pengarahan langsung dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

"Jadi untuk semester II tahun 2026 ini, seluruh badan upaya BBM wajib melakukan pencampuran, perihal ini sesuai dengan peraturan Menteri nomor 4 tahun 2025," ujar Eniya dalam Rapat Kerja Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6).

Kesiapan pabrikan

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memastikan kesiapan produsen mobil dan kendaraan niaga untuk beranjak ke penggunaan bahan bakar biodiesel B50.

"Yang terakhir kan sampai B40 kan, Nah, kemudian dicoba ke B50 sekarang. Nah, itu semua persyaratannya sudah ada. Selama karakteristiknya dipenuhi, harusnya tidak ada masalah," kata Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo.

Kukuh juga menjelaskan pihaknya dan pemerintah telah melakukan uji coba B50 dengan kendaraan diesel. Tak disebutkan penyesuaian mesin nan telah dilakukan
untuk penggunaan B50, namun sejauh ini dipastikan tak menemui kendala.

"Kali ini tidak ada masalah," kata Kukuh.

Sementara itu penguasa pasar roda dua di Indonesia, Astra Honda Motor (AHM), menyatakan sudah siap menghadirkan teknologi baru untuk seluruh model sepeda motor Honda guna menekan emisi karbon dari kendaraan bermotor.

Bagi AHM perusahaan siap menyediakan mesin nan bisa menenggak bioetanol sebagai salah satu sumber daya pengganti saat ini.

Executive Vice President Director PT AHM Thomas Wijaya menjelaskan untuk memulainya butuh sinergi dari sejumlah pihak termasuk izin hingga kesiapan bahan bakar pengganti tersebut.

Ia pernah menyebut Honda sudah mempunyai motor nan bisa menggunakan BBM alternatif. Teknologi ini telah dikembangkan di beberapa negara seperti Brazil, Argentina, dan India.

"Kalau secara Honda Motor, teknologi kita untuk karbon netral sangat siap untuk mendukung ke sana. Nah tentu ini butuh kerjasama dari izin termasuk juga kesiapan bahannya gitu ya," ungkap Thomas beberapa waktu lalu.

Jadi jembatan ke EV

Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai penggunaan bahan bakar biodiesel dan bioetanol, bisa menjadi jembatan transisi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Hal ini juga dirasa tepat sebelum beranjak sepenuhnya ke penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai (EV).

"Biofuel apalagi menurut saya bisa menjadi bridging fuel sebelum ke EV," ucap Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho di Jakarta beberapa waktu lalu.

Peran biofuel sebagai jembatan transisi daya dari BBM fosil, kata dia, bakalan terasa di wilayah-wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Sebab mereka belum tersentuh oleh prasarana pendukung kendaraan listrik.

Sebab itu sembari menunggu kesiapan pemerataan prasarana kendaraan listrik, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap BBM fosil dengan langkah beranjak ke biofuel.

"Karena segmennya menurut saya juga berbeda. Di beberapa wilayah tetap dibutuhkan (BBM), sembari kita bisa menunggu prasarana dari EV-nya tercipta di wilayah tersebut. Saya kira kita perlu mendorong itu (biofuel dan EV) berdampingan," ucap Andry.

(ryh/fea)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-oto