Jakarta -
Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim dituntut balasan 18 tahun penjara. Ia juga dituntut bayar duit pengganti sebesar Rp 5,6 triliun dalam kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM).
"Menuntut agar majelis pengadil menyatakan terdakwa Nadiem Anwar Makarim telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi nan dilakukan secara bersama-sama," ujar jaksa Roy Riady saat membacakan amar tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Jaksa mengatakan kekayaan barang Nadiem dapat dirampas dan dilelang untuk menutupi duit pengganti tersebut. Namun jika tak mencukupi, diganti dengan pidana kurungan selama 9 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nadiem diketahui menjabat sebagai Mendikbud di era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'aruf Amin.
Lahir 1984, Kuliah di Amerika
Punya nama komplit Nadiem Anwar Makarim, laki-laki berkacamata ini lahir pada 4 Juli 1984 dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Sang ayah adalah seorang aktivis dan pengacara terkemuka, sedangkan ibunya bekerja sebagai penulis lepas.
"Saya SD di Indonesia, rumah selalu di Jakarta, background saya ibu lahir Pasuruan, ayah saya Pekalongan," ujar Nadiem kepada detikcom waktu itu.
Sang ayah nan juga salah satu pendiri instansi norma Makarim & Taira Sjuga, lahir dari orang tua berbeda budaya, Minang dan Arab. Sementara ibunya adalah putri Hamid Algadri, keturunan Pasuruan-Arab.
Yang menarik, kakeknya dari sang ibu adalah seorang pejuang perintis kemerdekaan Indonesia nan berjasa dalam perundingan Linggarjati, perundingan Renville, KMB, dan salah satu personil parlemen pada masa awal berdirinya Negara Republik Indonesia.
"Tapi dari bapak saya itu dari Bukittinggi, jadi saya ada Sumatera, Madura-nya, ada Jawa Timur, ada Jawa Tengah, terus campuran Arab," ungkapnya.
Nadiem SD hingga SLTA pindah-pindah dari Jakarta ke Singapura. Usai tamat SMA, dia mengambil bidang International Relations di Brown University, Amerika Serikat, dilanjutkan menempuh pasca sarjana dengan meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School.
"Karena saya punya perspektif sekolah di luar negeri, saya bisa kembali lampau memandang hal-hal dengan lensa nan baru," tuturnya.
Pendiri Gojek
Kembali ke Indonesia, Nadiem sempat bekerja sebagai konsultan sebelum mendirikan Go-Jek. Ia pernah mengaku memang doyan menggunakan jasa ojek untuk menembus kemacetan Jakarta.
Gojek berdiri tahun 2010 di Jakarta. Awalnya hanya jasa call center nan menghubungkan penumpang dengan ojek. Pada 2015, Gojek meluncurkan aplikasi mobile dengan empat jasa utama: GoRide, GoSend, GoShop, dan GoFood.
"Kami di sini berupaya untuk menawarkan solusi lapangan pekerjaan bagi nan memerlukan pekerjaan. Dimana mereka nan hanya punya motor, punya smartphone, dan berkemauan keras bisa bekerja," ujarnya saat dulu meluncurkan aplikasi Go-Jek.
"Kami juga berupaya untuk mensejahterakan tukang ojek nan mungkin selama ini penghasilannya tidak seberapa dengan memberikan pendapatan tambahan nan didapat dari Go-Jek Indonesia ini," tambahnya ketika itu.
Popularitasnya Nadiem pun melonjak seiring kesuksesan GoJek. Gojek kemudian berekspansi ke beragam jasa digital seperti pembayaran (GoPay), logistik, hingga hiburan.
Pada 2019, Nadiem ditunjuk sebagai Mendikbud, sehingga kepemimpinan di Gojek pada saat itu diteruskan oleh Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi.
Pada 2021, Gojek merger dengan Tokopedia dan membentuk GoTo Group, salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.
Menurut rumor nan beredar di kalangan pelaku pasar, Nadiem sudah menjual keseluruhan saham miliknya apalagi sebelum GoTo melantai (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 April 2022.
(fyk/fyk)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·