Jakarta, CNN Indonesia --
Instagram akan mulai menghentikan enkripsi pesan langsung alias direct messages (DM) mulai 8 Mei mendatang.
Pada Maret, Meta secara diam-diam mengumumkan di laman support IG dan dalam unggahan buletin tahun 2022 nan telah diperbarui bahwa enkripsi end-to-end tidak lagi tersedia untuk DM antar pengguna di IG mulai 8 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO Meta Mark Zuckerberg pertama kali mengumumkan rencana untuk meluncurkan enkripsi end-to-end di seluruh rangkaian platform Meta pada 2019, tetapi baru mulai menerapkannya pada 2023.
Artinya, Meta bakal dapat memandang isi pesan antara pengguna, nan sejauh ini hanya dapat dilakukan terhadap pengguna nan tidak mengaktifkan enkripsi.Fitur tersebut sudah tampak dinonaktifkan bagi pengguna di Australia.
Seorang ahli bicara Meta mengatakan keputusan untuk menghentikan enkripsi disebabkan oleh rendahnya tingkat adopsi.
"Sangat sedikit pengguna nan memilih untuk menggunakan pesan terenkripsi end-to-end di DM, jadi kami bakal menghapus opsi ini dari IG dalam beberapa bulan ke depan," kata ahli bicara tersebut, dikutip dari The Guardian pada Selasa (5/5).
"Siapa pun nan mau tetap berkirim pesan dengan enkripsi end-to-end dapat melakukannya dengan mudah di WhatsApp," tambahnya.
Meta telah menerima kritik dari kelompok-kelompok perlindungan anak dan aliansi penegak hukum, termasuk FBI, Interpol, Badan Kejahatan Nasional Inggris, dan kepolisian federal Australia. Mereka beranggapan fitur tersebut bakal melemahkan keahlian untuk menjaga keamanan anak-anak di bumi maya.
Seorang ahli bicara instansi komisaris eSafety Australia mengatakan bahwa enkripsi nan kuat memainkan peran krusial dalam melindungi privasi dan keamanan, tetapi ketika diterapkan, platform juga kudu mencegah, mendeteksi, dan menanggapi bahaya.
"Jika enkripsi end-to-end diterapkan tanpa langkah-langkah keamanan nan memadai, perihal itu dapat meningkatkan akibat keamanan dan menghalangi identifikasi potensi ancaman seperti pemanfaatan seksual anak, terorisme, dan ekstremisme kekerasan," kata ahli bicara tersebut.
"Pada akhirnya, keputusan untuk menerapkan enkripsi end-to-end merupakan pilihan upaya dan kreasi bagi platform, namun perihal itu tidak menghilangkan tanggung jawab platform untuk mencegah potensi bahaya," lanjutnya.
Tom Sulston, kepala kebijakan di Digital Rights Watch, mengatakan langkah tersebut kemungkinan disebabkan oleh keputusan Meta untuk tidak memindahkan jasa pesan di WhatsApp, Facebook, dan IG ke satu platform tunggal, daripada menuruti tuntutan penegak hukum.
"Fakta bahwa WA tetap terenkripsi menunjukkan bahwa Meta mungkin sedang beranjak untuk memisahkan media sosial dari chat sedikit lebih jauh. Perbedaan utamanya adalah pengguna media sosial dapat menemukan satu sama lain, sedangkan pengguna chat kudu saling mengenal terlebih dahulu," katanya.
Menurut Sulston, duit kemungkinan juga menjadi faktor, lantaran Meta berpotensi menggunakan isi pesan untuk menentukan iklan dan melatih chatbot.
"Mungkin mereka belum melakukannya sekarang, tapi tekanan komersial untuk melakukannya sangat besar, jadi rasanya tak terhindarkan bahwa mereka bakal melakukannya jika belum melakukannya," tuturnya.
Sulston mengatakan bahwa lebih banyak perusahaan teknologi semestinya beranjak ke enkripsi end-to-end, bukan lebih sedikit.
"Mengapa tidak memperbaiki produk, daripada terus merusaknya?" katanya.
(lom/dmi)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·