Pernah nggak sih merasa udah kenyang, tapi pikiran tetap terus 'menyuruh' untuk makan? Mulai dari buka aplikasi pesan makan online, scroll-scroll menu makan di TikTok, sampai udah kepikiran mau makan malam apa padahal sarapan aja belum.
Nah, 'kebisingan' soal makanan ini dinamakan 'food noise'. Dikutip dari Harvard Health, sebuah laporan tahun 2025 mendefinisikan 'food noise' sebagai pikiran terus-menerus tentang makanan nan dianggap seseorang sebagai perihal nan tidak diinginkan alias menyusahkan dan nan dapat menyebabkan masalah sosial, mental, alias fisik.
Dokter ahli gizi klinik, dr Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, Subsp.KM, SpKKLP, AIFO-K mengatakan bahwa kebisingan ini umumnya menjadi 'musuh' dari mereka nan obesitas dan mau diet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak orang dengan obesitas sudah berupaya keras, tetapi tetap merasa kesulitan lantaran tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh nan kompleks. Memahami food noise krusial agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi," ujar dr Iflan di Kawasan PIK 2, Kabupaten Tangerang, Jumat (8/5/2026).
dr Iflan nan juga Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) menambahkan food noise ini merupakan aspek biologis imbas 'dorongan' dari otak.
"Nah ini nan kudu kita kendalikan, namanya dopamin. Ini nan kudu kita turunkan dopaminnya, kita kendalikan agar food noise itu tidak mengganggu kehidupan sehari-hari," katanya.
Menurut dr Iflan, dorongan-dorongan visual seperti memandang makanan di layar gadget dapat memicu food noise itu sendiri. Hal ini memunculkan kemauan untuk mau mencoba rasanya, meskipun tubuh sebenarnya sudah dalam kondisi 'cukup'.
"Lagi penciuman, aroma makanan. Aduh (itu makin memperparah), itu pintarnya pedagang," katanya.
Salah satu langkah untuk 'meredam' food noise ini adalah dengan penemuan medis seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) berkedudukan dalam membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang melalui pusat pengaturan nafsu makan di otak.
Dengan bekerja pada jalur biologis nan mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, penemuan ini terbukti secara klinis dapat memperbaiki kontrol makan melalui penurunan rasa lapar, pengurangan kemauan makan, serta peningkatan rasa kenyang.
Simak Video "Video: Punya Genetik 'High Risk Obesity'? Kenali Cara Menekan Risikonya"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·