Pertamax Rp16.250, Ingat Jangan Coba-coba Campur Pertalite

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi RON 92 dari Pertamina ialah Pertamax akhirnya naik per 10 Juni 2026. Banderol melonjak menjadi Rp16.250 dari sebelumnya Rp12.300 per liter alias naik nyaris Rp4.000.

Lonjakan nilai tersebut membikin sebagian pengendara sepeda motor mulai mencari langkah untuk menekan biaya operasional harian. Salah satu nan kerap muncul adalah mencampur Pertamax dengan Pertalite agar biaya pengisian lebih murah, namun berambisi memperoleh kualitas bahan bakar lebih baik.

Meski terdengar sebagai jalan tengah, langkah tersebut justru tidak dianjurkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertalite merupakan produk BBM bensin Pertamina dengan nomor oktan (RON) 90. Bahan bakar berwarna hijau bening ini ditujukan untuk kendaraan konvensional seperti Honda Vario, Honda Beat, hingga Yamaha Mio generasi lawas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu Pertamax mempunyai nomor oktan lebih tinggi, ialah RON 92. BBM ini direkomendasikan untuk kendaraan dengan rasio kompresi 9,1 hingga 10,1, terutama motor nan telah menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI).

Dengan nomor oktan nan lebih tinggi, Pertamax bisa menerima tekanan lebih besar pada mesin berkompresi tinggi sehingga proses pembakaran berjalan lebih optimal.
Selain itu, Pertamax juga dibekali unsur aditif EcoSave nan berfaedah membantu mencegah terbentuknya kerak di dalam mesin sehingga komponen tetap terjaga.

Menurut dealer motor Honda terbesar di Indonesia, Wahana Honda, mencampur Pertalite dan Pertamax justru berpotensi menimbulkan akibat negatif terhadap mesin kendaraan.

Alih-alih memperoleh faedah oktan nan lebih tinggi, pencampuran kedua bahan bakar tersebut dapat menghilangkan sejumlah kelebihan nan dimiliki Pertamax. Salah satunya kegunaan aditif nan berkedudukan membersihkan kerak pada mesin.

Proses pembakaran juga disebut tidak bakal melangkah optimal lantaran kedua jenis bahan bakar mempunyai karakter berbeda nan kemudian bercampur di dalam tangki.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu indikasi knocking alias ngelitik pada mesin.

Tak hanya itu, sejumlah kendaraan terbaru saat ini telah dilengkapi sensor pendeteksi kualitas bahan bakar. Sensor tersebut dapat membaca jika bahan bakar nan digunakan tidak sesuai spesifikasi nan direkomendasikan pabrikan.

Apabila terjadi pencampuran bahan bakar dengan karakter berbeda, parameter peringatan pada panel instrumen kendaraan berpotensi menyala.

Karena itu, mencampur Pertalite dan Pertamax tidak disarankan meski nilai BBM nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan. Selain berisiko menurunkan performa kendaraan, kebiasaan tersebut juga dapat berakibat jelek terhadap mesin dalam jangka panjang.

Bagi pengendara nan mau beranjak jenis bahan bakar, disarankan menghabiskan isi tangki terlebih dulu sebelum mengisi dengan BBM nan berbeda.

(mik/ryh/mik)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-oto