Pemprov Kalteng Targetkan 30 Persen Sanitasi Aman Di 2026

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Pemerintah Provinsi () menargetkan capaian sanitasi kondusif sebesar 30 persen melalui Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Tahun 2026.
Langkah ini diawali dengan Kick Off Meeting PPSP di Aula Bapperida, Senin, 20 April 2026.

Kegiatan ini menjadi forum koordinasi antara Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk menyelaraskan strategi pengelolaan air limbah domestik serta persampahan.

Kepala Bidang Infraswil Bapperida Kalteng, Yohanna Endang, saat membacakan pengarahan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kalteng Linae Victoria Aden, menegaskan pentingnya pertemuan ini guna mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) dan Daerah (RPJMD) 2025-2029.

“Kegiatan ini menjadi titik awal penguatan koordinasi lintas sektor sekaligus persiapan penerapan PPSP 2026, termasuk sinergi penyusunan arsip perencanaan sanitasi tahun 2027,” ujarnya.

Yohanna menjelaskan, pembangunan sanitasi sekarang bergeser dari sekadar akses layak menjadi jasa nan kondusif dan berkelanjutan. Selain itu, sektor ini berkedudukan krusial dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan percepatan penurunan stunting melalui integrasi dengan sektor perumahan dan air minum.

Terkait bagian persampahan, dia menyebut pemerintah pusat sekarang membatasi pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) baru. Fokus dialihkan pada penguatan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan pengurangan sampah langsung dari sumbernya.

Berdasarkan RPJMD Kalteng 2025-2029, sasaran akses sanitasi kondusif rumah tangga dipatok sebesar 13,37 persen pada 2026 dan naik menjadi 15,58 persen pada 2027. Sementara itu, jasa pengumpulan sampah ditargetkan mencapai 38,5 persen (2026) dan 39 persen (2027), dengan sasaran pengolahan sampah sebesar 10,25 persen (2026) serta 13,5 persen (2027).

Sesuai keputusan Kementerian Dalam Negeri, seluruh kabupaten/kota di Kalteng bakal mendapatkan pendampingan PPSP 2026. Kota dan Kabupaten masuk dalam pendampingan tahap awal (Milestone 1–3), sedangkan Kabupaten dan berada pada tahap lanjutan (Milestone 4).

pun meminta pemerintah wilayah memastikan kesiapan kelembagaan, pendanaan, dan SDM.

“Keberhasilan pembangunan sanitasi sangat ditentukan oleh sinergi dan kerjasama beragam pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta,” tegas Linae dalam sambutan tertulisnya.

Linae juga mendorong optimasi pendanaan pengganti di luar APBD dan APBN, seperti Dana , CSR, hingga ZISWAF.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah kabupaten/kota diminta segera mengintegrasikan program sanitasi ke dalam perencanaan daerah, menyiapkan anggaran, serta memutakhirkan arsip Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK) melalui studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA).

(Syauqi)

Sumber info-lokal