SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melaksanakan aktivitas tanam padi serentak di lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) nan berada di Jalan Jenderal Sudirman Km 15, Kelurahan Baamang Hulu, Kamis 9 April 2026.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kotim Umar Kaderi, berbareng Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta unsur Forkopimda. Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung swasembada pangan berkepanjangan di daerah.
Tanam padi serentak tersebut dilakukan di lahan golongan tani Mandiri Makmur, Kelurahan Baamang Hulu. Gerakan ini juga merupakan tindak lanjut dari program pemerintah pusat dalam meningkatkan produksi pangan nasional melalui optimasi lahan pertanian.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Permata Fitri, menjelaskan bahwa program cetak sawah di Kotim telah melangkah sejak 2025 dengan sasaran awal seluas 4.261 hektare.
“Namun realisasi oleh penyedia dari Kementerian Pertanian pada tahun 2025 mencapai 1.339 hektare nan tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Baamang, Teluk Sampit, Pulau Hanaut, dan Mentaya Hilir Selatan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan adanya kebijakan lanjutan dari Kementerian Pertanian melalui sistem Erpata untuk penyelesaian lahan nan belum tercetak, nan berhujung pada 31 Maret 2026.
“Dari sasaran 1.904 hektare, realisasinya mencapai 136,6 hektare. Dalam penyelenggaraan ini, kami terus bersinergi dengan BRMP Provinsi Kalteng, tim kerja, serta penyuluh pertanian sebagai ujung tombak di lapangan,” jelasnya.
Menurutnya, program cetak sawah tidak hanya mencakup pembangunan lahan, tetapi juga didukung dengan support sarana produksi dari pemerintah pusat, seperti bibit dan kebutuhan pertanian lainnya, sehingga petani dapat langsung melakukan tanam.
Sementara itu, Pj Sekda Kotim Umar Kaderi menegaskan bahwa aktivitas tanam padi serentak merupakan langkah konkret dalam menghadapi tantangan sektor pertanian, terutama dalam menjaga ketahanan pangan di tengah perubahan suasana dan dinamika global.
“Gerakan ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan luas tanam dan mengoptimalkan lahan pertanian, khususnya lahan tadah hujan. Petani didorong memanfaatkan waktu tanam secara tepat agar hasilnya maksimal,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa berasas laporan, luas tanam Cetak Sawah Rakyat di Kotim saat ini mencapai sekitar 284 hektare nan tersebar di beberapa kecamatan.
Selain itu, dia mengingatkan pentingnya memperhatikan potensi musim kemarau. Berdasarkan informasi, awal tandus diperkirakan terjadi pada minggu ketiga Juni dengan puncak pada September.
“Kalau masa tanam sekitar empat bulan, maka kita berambisi panen bisa dilakukan pada Juli alias Agustus sebelum puncak kemarau. Ini krusial agar hasilnya optimal,” katanya.
Umar menambahkan bahwa aktivitas tanam serentak ini sejalan dengan pengarahan Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi padi nasional melalui ekstensifikasi dan intensifikasi lahan.
“Masalah pangan adalah soal kedaulatan dan keberlangsungan bangsa. Kalau kita mau maju, maka pangan kudu kondusif terlebih dahulu,” tegasnya.
Melalui aktivitas ini, Pemkab Kotim optimistis dapat terus meningkatkan produksi pertanian serta berkontribusi dalam mendukung kedaulatan pangan nasional. (Nardi)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·