Jakarta, CNN Indonesia --
Pelatih Jay Idzes di Sassuolo, Fabio Grosso, ikut buka bunyi setelah timnas Italia kandas melangkah ke Piala Dunia 2026.
Grosso merupakan salah satu sosok krusial ketika Italia menjadi juara bumi pada 20 tahun silam. Sepakan penalti Grosso memastikan Italia mengalahkan Prancis dalam final Piala Dunia 2006 di Berlin, Jerman.
Setelah kegemilangan itu, Italia perlahan kolaps. Hanya bisa bersaing di fase grup Piala Dunia 2010 dan 2014, serta kemudian kandas lolos ke Piala Dunia 2018, 2022, dan 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Grosso pun ikut terusik dengan kegagalan Gli Azzurri nan pernah dibelanya.
"Saya merasa perihal nan sama seperti orang-orang Italia lainnya, kami mau berada di Piala Dunia, nan telah lama tidak kami ikuti, tetapi sayang kami tidak berhasil," ucap Grosso kepada TMW.
Grosso kemudian mengeluarkan pertanyaan nan simpel, namun punya makna besar di kembali kegagalan Italia.
"Pertanyaan nan saya tanyakan ke diri saya adalah, apa nan terjadi jika [Francisco] Pio [Esposito] alias [Moise] Kean bisa mencetak gol [dan membawa Italia unggul atas Bosnia]? Itu sepertinya pertanyaan nan mudah, tetapi di belakangnya terdapat banyak perihal untuk dikatakan dan dijelaskan."
"Tentunya saya punya tugas berbeda dan saya konsentrasi bakal apa nan saya lakukan, tetapi kita kudu bisa menganalisa apa nan terjadi di setiap momen, jika tidak maka kita hanya bakal berfokus pada pencarian kambing hitam. Di sisi lain kita kudu bisa berkontribusi pada sebuah aktivitas untuk bangkit. Kita butuh orang nan tepat dengan buahpikiran nan jelas," jelas Grosso.
Terlepas dari kekecewaan atas kegagalan Italia menembus Piala Dunia, Grosso mengaku senang atas capaian anak asuhnya nan membantu Bosnia Herzegovina lolos ke Piala Dunia.
Tarik Muharemovic nan merupakan tandem Jay Idzes di lini belakang Sassuolo merupakan salah satu jagoan timnas Bosnia.
(nva/nva/jal)
Add
as a preferred source on Google
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·