REVIEW KONSER
Vandeniar Kennindya | CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2026 20:00 WIB
Formula tukar setlist nan sempat sukses dibawakan Pestapora dalam gelaran 2025 sekarang coba diangkat kembali dalam format nan lebih mini dalam OTW Pestapora. (CNN Indonesia/Vandeniar Kennindya)
Jakarta, CNN Indonesia --
Formula tukar setlist nan sempat sukses dibawakan Pestapora dalam gelaran 2025 sekarang coba diangkat kembali dalam format nan lebih mini dalam OTW Pestapora.
Digelar selama tiga hari di Bengkel Space, SCBD, venue nan jauh lebih mini dibanding letak original pagelaran musik tahunan tersebut, OTW Pestapora mencoba apakah formula itu bisa sukses di format nan intim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada hari kedua gelaran, Senin (4/5), aktivitas ini memboyong Mocca, Sore, Reality Club, dan Parade Hujan. Formulanya, Mocca membawakan lagu Reality Club, begitu sebaliknya. Kemudian Sore membawakan lagu Payung Teduh, sedangkan Parade Hujan membawakan lagu Sore.
Dengan line-up tersebut, para fans masing-masing datang dengan atribut unik idolanya. Situasi itu tampak menunjukkan aktivitas ini beriktikad jadi pemersatu lintas fans dalam satu ruang nan sama.
Penampilan dibuka oleh Mocca nan membawakan lagu-lagu milik Reality Club. Aransemen unik Mocca nan ringan dan manis memberikan warna baru pada lagu-lagu Reality Club, tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Sentuhan flute dari Arina Ephipania menjadi komponen pembeda di tengah lagu-lagu Reality Club nan biasanya terkesan lebih urban. Namun, harmoni itu sempat terganggu. Sound nan terlalu keras dan condong sember membikin pengalaman mendengar terasa kurang nyaman.
Vokal Arina beberapa kali tenggelam, seolah tertutup riuh instrumen nan justru terlalu dominan. Bahkan, ketika hubungan dengan penonton dibangun, respons nan muncul malah terasa sunyi.
Terlepas dari itu, Mocca tetap bisa menjaga dinamika. Dari lagu pembuka You'll Find Lovers Like You and Me nan lebih upbeat dan ganjen hingga Sorrowful Reunion dan Alexandra nan dibawakan lebih sendu, Mocca seperti meracik emosi penonton dengan takaran nan pas namun tetap mengalir.
Formula tukar setlist nan sempat sukses dibawakan Pestapora dalam gelaran 2025 sekarang coba diangkat kembali dalam format nan lebih mini dalam OTW Pestapora. (CNN Indonesia/Vandeniar Kennindya)
Sebaliknya, Reality Club membawakan lagu-lagu Mocca dengan pendekatan nan lebih berani. Sebagai band nan mengaku "tumbuh" dengan lagu-lagu Mocca, penampilan Reality Club terasa larut dalam dunianya sendiri.
Namun, justru perihal itu nan membikin penampilan Reality Club terasa tulus dan menunjukkan kedekatan emosional mereka dengan karya Mocca.
Fathia Chia Izzati dan kawan-kawan terlihat sangat menikmati saat membawakan Me and My Boyfriend, nan juga tersalurkan ke daya penonton nan tampak lebih antusias, terutama pada paruh kedua penampilan Reality Club.
Aksi Chia berkedudukan sebagai Arina Ephipania saat membawakan I Remember jelas sangat bisa dinikmati dengan nyaman. Vokalis Reality Club itu tidak meninggalkan kesan ganjen ala Arina, tapi memberikan sentuhan lebih bold dari suaranya.
Puncak tukar setlist hari kedua ini terasa saat Sore membawakan lagu-lagu Payung Teduh. Lagu-lagu terkenal seperti Angin Pujaan Hujan dan Akad sukses memicu partisipasi penonton secara kolektif.
Aransemen Sore nan lebih tajam dan kompleks bisa mempertahankan daya penonton tanpa menghilangkan nuansa emosional dari lagu aslinya. Pada titik ini, euforia penonton terasa paling menyatu.
Lagu-lagu terkenal Payung Teduh mengikat penonton nan semula mempunyai identitasnya masing-masing, menjadi enak-enak berbaur menjadi satu.
Sayangnya atmosfer itu mulai mengendur saat Parade Hujan tampil membawakan lagu-lagu Sore. Penampilan nan terasa singkat membikin momentum sedikit terputus.
Penonton baru kembali hidup saat Sssttt dibawakan sebagai lagu penutup. Lagu terkenal itu tampak familiar dan sukses membangkitkan daya penonton.
Dengan pagelaran OTW Pestapora ini, formula silang-saling-bawa-setlist terbukti tetap efektif dalam "mempersatukan" klan-klan penggemar, apalagi dalam venue nan jauh lebih kecil.
Hanya saja, semua berjuntai pada konsep nan kuat, line-up solid, dan pedoman fans nan loyal. Bukan hanya itu, aktivitas model seperti ini juga berjuntai pada kualitas dari venue nan menjadi letak penyelenggaraan.
Dengan venue nan lebih kecil, jelas kelemahan sekecil apa pun bakal terlihat lebih jelas. Apalagi jika musisi nan tampil pada hari itu bukan nan digemari alias apalagi dikenal oleh visitor lainnya, nan ada bisa jadi momen krik-krik di tengah acara.
Namun bagi mereka nan hanya mau menyanyi dan berpesta pora dengan pujaan mereka, apa pun formula acaranya, semua bakal disikat.
(end)
Add
as a preferred source on Google
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·