CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 13:00 WIB
Ilustrasi. Warga Bhutan punya langkah unik untuk berbahagia, ialah dengan mengingat kematian. (Istockphoto/Baramee Temboonkiat)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bhutan dikenal sebagai salah satu negara nan sering dikaitkan dengan kebahagiaan. Menariknya, salah satu kebiasaan nan dipercaya membantu warganya hidup lebih senang justru terdengar tidak biasa: mengingat kematian.
Bagi banyak orang, kematian adalah topik nan berat dan sebisa mungkin dihindari. Namun, di Bhutan, kematian justru dipandang sebagai pengingat untuk menjalani hidup dengan lebih sadar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa rahasia senang orang Bhutan dari kebiasaan mengingat kematian tersebut?
1. Jadi pengingat bahwa waktu terbatas
Mengingat kematian membikin seseorang sadar bahwa hidup tidak berjalan selamanya. Kesadaran ini bisa membantu seseorang berakhir menunda perihal krusial dan lebih konsentrasi pada apa nan betul-betul berarti.
Profesor ilmu jiwa dari Washington University in St. Louis, Brian Carpenter, mengatakan bahwa menerima kematian dapat mendorong rasa kebersamaan dan makna hidup, seperti nan dikutip dari CNN.
2. Membuat orang lebih berani menghadapi rasa takut
Kematian sering dianggap sebagai perihal nan menakutkan. Padahal, geropsikolog dari Rush University, Erin Emery-Tiburcio, mengatakan bahwa banyak orang sebenarnya lebih takut pada penderitaan menjelang akhir hidup, seperti sakit alias kehilangan kendali.
Dengan membicarakannya secara lebih terbuka, kematian tidak lagi terasa sebagai sesuatu nan sepenuhnya gelap. Sebaliknya, topik ini bisa membantu orang memahami rasa takutnya sendiri.
3. Mengajarkan senang tidak selalu soal uang
Bhutan dikenal dengan konsep Gross National Happiness alias Kebahagiaan Nasional Bruto. Ukuran senang di negara ini tidak hanya dilihat dari ekonomi, tetapi juga kesehatan spiritual, sosial, budaya, dan lingkungan.
Mengutip dari Financial Times, masyarakat Bhutan hidup dekat dengan alam, komunitas, dan praktik spiritual. Pengingat tentang kematian juga datang dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bendera doa, simbol spiritual, tempat ibadah, hingga tradisi mengenang orang nan telah meninggal.
4. Membantu menerima realita hidup
Dalam dokumenter Agent of Happiness, sutradara Arun Bhattarai pun menyoroti langkah masyarakat Bhutan memandang kebahagiaan. Salah satu pelajaran nan dia temukan adalah keahlian menerima realita saat ini.
Menerima bukan berfaedah menyerah. Justru, sikap ini membantu seseorang lebih kuat menghadapi kesulitan dan tidak menghabiskan daya untuk melawan perihal nan tidak bisa dikendalikan.
5. Membuat hubungan terasa lebih penting
Saat sadar hidup tidak selamanya, seseorang bisa lebih terdorong untuk menjaga hubungan dengan orang terdekat. Misalnya, lebih sering menghubungi keluarga, meminta maaf, menyampaikan perasaan, alias meluangkan waktu berbareng orang nan berarti.
6. Mengajak lebih menikmati hari ini
Memikirkan kematian tidak kudu dilakukan sampai membikin cemas.Emery-Tiburcio menyarankan agar kesadaran tentang hidup nan terbatas justru dipakai untuk kembali menikmati momen saat ini.
Caranya bisa sederhana, seperti datang penuh saat berbareng orang tersayang, merawat tubuh, menyelesaikan perihal penting, alias berakhir menunda sesuatu nan bermakna.
Pada akhirnya, kebiasaan orang Bhutan mengingat kematian bukan soal menjadi. muram. Sebaliknya, kebiasaan ini menjadi pengingat bahwa hidup perlu dijalani dengan lebih sadar, lebih penuh, dan lebih menghargai hal-hal mini nan sering terlewat.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·