Jakarta, CNN Indonesia --
Negara ini tengah menghadapi kerusuhan menyusul demonstrasi besar-besaran menuntut sang presiden untuk mundur hingga memicu bentrok antara polisi dan pedemo anti-pemerintah sejak beberapa hari terakhir.
Polisi antihuru-hara Bolivia berantem dengan para demonstran di Kota La Paz sejak Jumat (22/5) untuk kedua kalinya dalam sepekan, ketika serikat pekerja dan golongan masyarakat budaya terus mendesak Presiden Rodrigo Paz Pereira mundur dari jabatannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tuntutan agar pemimpin konservatif pro-bisnis itu mengundurkan diri terus bersambung meskipun dia telah berjanji bakal menanggapi keluhan serikat pekerja dan organisasi adat.
Banyak toko dan upaya di pusat kota La Paz memilih tutup, mengantisipasi demo berujung bentrok dengan abdi negara terulang seperti nan terjadi pada awal pekan lalu.
"Ia (presiden) kudu mundur, sialan!" teriak massa nan terdiri dari petani, buruh, penambang, pekerja transportasi, dan guru, nan membikin lampau lintas di jalan-jalan kota pegunungan Andes itu lumpuh total.
Pereira naik ke tampuk kekuasaan enam bulan lampau di tengah krisis ekonomi terburuk Bolivia sejak dasawarsa 1980-an, nan ditandai dengan kelangkaan bahan bakar, penurunan devisa asing, serta inflasi nan tak terkendali.
"Sudah enam bulan menjabat dan dia apalagi belum bisa menyelesaikan kebutuhan paling mendasar... Kami kudu memilih antara membeli daging alias membeli susu," kata Melina Apaza, demonstran berumur 50 tahun dari wilayah pertambangan selatan Oruro, kepada AFP.
Dengan mengenakan helm dan ponco, para demonstran-banyak di antaranya mengibarkan bendera pelangi unik masyarakat adat-berbaris menuju pusat kota di tengah bunyi petasan nan bersahut-sahutan.
Para demonstran melempar kayu dan batu ke arah polisi antihuru-hara, nan membalas dengan rentetan gas air mata dan menghalangi mereka mencapai alun-alun di depan gedung pemerintahan.
Menjelang sore, ketika situasi kota mulai mereda, ratusan penduduk menggelar tindakan tandingan di pusat kota untuk memprotes blokade jalan nan melumpuhkan La Paz, menurut laporan wartawan AFP.
Pecat menteri tenaga kerja
Pemerintah Bolivia menyatakan bakal mengerahkan operasi campuran polisi dan militer mulai Sabtu pagi guna membuka jalur pengedaran barang-barang krusial nan langka di La Paz akibat blokade.
Di El Alto, area pinggiran La Paz nan kebanyakan dihuni masyarakat budaya dan dikenal sebagai pusat perlawanan politik, demonstran sempat memblokir akses menuju airport internasional utama kota tersebut.
Berupaya meredam demo buruh, Pereira memecat menteri tenaga kerjanya nan tidak terkenal serta berjanji memberi lebih banyak ruang bagi para penambang dan golongan masyarakat lain untuk ikut menentukan arah kebijakan pemerintah.
Namun, upaya tersebut tampaknya belum sukses meredam amarah publik.
Jalan-jalan menuju La Paz tetap diblokade para demonstran, menyebabkan kelangkaan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Aksi demonstrasi serikat pekerja dimulai pada awal Mei dengan tuntutan kenaikan upah, perbaikan pasokan bahan bakar, dan stabilitas ekonomi.
Namun, seiring berjalannya waktu, demonstrasi berkembang menjadi pemberontakan besar-besaran nan ditandai dengan tuntutan pengunduran diri Pereira, nan didukung Amerika Serikat.
Konvoi menteri diserbu
Konvoi Menteri Pekerjaan Umum Bolivia, Mauricio Zamora, disergap para demonstran dan dia sempat dinyatakan lenyap saat mengawasi pembukaan blokade jalan pada Sabtu.
Menurut laporan media lokal, kendaraan nan ditumpangi Zamora dicegat di kota Copata pada Sabtu sore dan terpisah dari rombongan. Ia kemudian sukses ditemukan dan sekarang dalam kondisi aman.
Konvoi Zamora tengah melintasi Copata, di selatan La Paz, ketika penduduk mulai melempari rombongan dengan batu dan dinamit, menurut media lokal.
Kendaraannya terpisah dari rombongan saat mereka mundur, tetapi sukses melarikan diri melalui jalan tanah, menurut Agencia Noticias Fides. Namun di letak itu, konvoi kembali disergap sebelum akhirnya sukses berasosiasi kembali dengan rombongan utama.
Di letak lain, para demonstran menjarah dan membakar pos bea cukai di Achicha Arriba, di jalur menuju El Alto, setelah polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Di dekat Caracollo, utara Oruro, sebuah konvoi diserang menggunakan bahan peledak. Demonstran membakar truk militer dan menjarah instansi polisi, sementara sebuah minibus dibakar di jalan raya La Paz-Oruro, menurut surat berita harian La Razon.
Kejadian ini berjalan kala Zamora memimpin operasi untuk membongkar barikade nan didirikan demonstran anti-pemerintah. Ini dilakukan guna memperlambat pengedaran peralatan ke ibu kota administratif La Paz dan wilayah El Alto di sekitarnya.
Misi untuk membuka apa nan disebut sebagai "koridor kemanusiaan" itu justru memicu gelombang kekerasan baru. Sejumlah konvoi dilaporkan diserang menggunakan batu dan dinamit.
(rds/bac)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu

English (US) ·
Indonesian (ID) ·