CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 17:45 WIB
Ilustrasi. Keluarga juga bisa kelelahan saat merawat pasien demensia. (iStock/Sewcream)
Jakarta, CNN Indonesia --
Merawat personil keluarga dengan indikasi demensia sering kali menjadi tantangan nan melelahkan, baik secara bentuk maupun emosional. Bukan hanya lantaran pasien mulai mudah lupa, tetapi juga akibat perubahan perilaku nan muncul perlahan dalam kehidupan sehari-hari.
Fia, seorang wanita nan mendampingi mertuanya dengan indikasi awal demensia, mengatakan tantangan terbesar justru datang dari pengulangan aktivitas sederhana nan terjadi nyaris setiap hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Emosi nan nggak terkontrol, kemudian pertanyaan nan berulang kali ditanyakan, itu kadang membikin kesabaran kita diuji. Meskipun kesabaran semestinya nggak ada batasnya ya, tapi kadang kita juga sedang tidak dalam mood nan baik," ujarnya saat ditemui CNNIndonesia.com dalam aktivitas Penguatan Komunitas Lansia Demensia dan Lintas Generasi Sahabat Alzi dan Peluncuran Aplikasi ALZICare nan diselenggarakan Alzheimer Indonesia di Jakarta, Kamis (21/5).
Ia mengaku kondisi tersebut kerap memunculkan rasa frustrasi, terutama ketika personil keluarganya lupa terhadap aktivitas nan baru saja dilakukan beberapa menit sebelumnya.
Salah satu momen nan paling membekas baginya terjadi saat sang mertua hendak salat. Setelah selesai berwudhu, dia kembali merasa belum melakukannya dan terus mengulang proses nan sama.
"Kalau ditanya sudah wudhu? Jawabnya selalu, 'Belum'. Jadi kita juga bingung kudu bagaimana. Akhirnya wudhu lagi, masuk bilik mandi lagi," katanya.
Situasi menjadi semakin susah lantaran kondisi bentuk pasien juga mulai menurun. Menurut Fia, personil keluarganya terkadang sudah kesulitan berjalan, tetapi tetap mau keluar masuk rumah berulang kali.
Meski demikian, Fia berupaya mencari langkah agar kondisi mental dan bentuk mertuanya tetap terjaga. Ia mengatakan aktivitas sosial dan olahraga ringan cukup membantu menjaga suasana hati pasien.
"Kalau pengobatannya, mertua saya lebih memilih olahraga. Dia ikut tai chi," katanya.
Menurut Fia, berjumpa dengan kawan sebaya juga membantu pasien merasa lebih nyaman saat berkomunikasi dibandingkan ketika berbincang dengan personil family nan lebih muda.
"Mungkin jika dengan teman-temannya, komunikasi jadi lebih lancar. Kalau dengan kita nan lebih muda, kadang memang kurang sabar," ujarnya.
Dokter ahli neurologi, Fasihah Irfani Fitri, mengatakan banyak family baru membawa pasien berobat ketika gangguan perilaku mulai muncul dan susah dikendalikan.
"Itu adalah gangguan perilaku nan biasanya baru membikin family merasa kewalahan," kata wanita nan berkawan disapa Fifi itu.
Menurutnya, pendekatan jasa demensia di Indonesia tidak bisa hanya berpusat pada rumah sakit. Dukungan organisasi dan family dinilai sama pentingnya dengan pengobatan medis.
Fifi menilai Indonesia sebenarnya mempunyai modal sosial nan kuat dalam merawat lansia lantaran budaya family besar tetap cukup erat. Dalam banyak kasus, pasien lansia tidak hanya didampingi anak, tetapi juga kerabat hingga tetangga sekitar.
Namun, dia mengingatkan bahwa personil family nan menjadi pendamping juga memerlukan support emosional. Pasalnya, kelelahan mental sering muncul secara perlahan dalam proses perawatan jangka panjang.
"Sebagian besar kehidupan ODD itu di rumah dan berada di tengah masyarakat," katanya.
Karena itu, menurut Fifi, jasa pendampingan dan edukasi mengenai demensia perlu diperluas agar family tidak merasa menghadapi kondisi tersebut sendirian.
(nga/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·