Mentan Siapkan Rp 40 Triliun Buat Riset Pertanian, Brin Turun Tangan

Sedang Trending 16 jam yang lalu

Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menambah produksi sektor pertanian dan perkebunan nasional lewat riset dan pembinaan untuk petani.

"Hari ini kita tanda tangan MoU (dengan BRIN), kita kolaborasi, nan pertama seluruh lab, instansi Kementerian Pertanian nan berada di tiap provinsi, 38 provinsi, itu bebas digunakan oleh para peneliti dari BRIN seluruh Indonesia," kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).

Dalam perihal ini, Amran mengatakan pihaknya telah menyiapkan anggaran hingga Rp 40 triliun untuk mendorong riset dan proses pembinaan petani. Sehingga kerja sama strategis diharapkan dapat menghasilkan varietas alias metode pertanian baru nan dapat meningkatkan produktivitas komoditas pangan secara signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi anggaran kita besar, total anggaran kita kan kurang lebih Rp 40 triliun, besar sekali. Nah ini kelak sembari membina petani. Jadi bukan percobaan satu hektare dua hektare, ini 10.000 (hektare), 5.000 (hektare) kita awasi bersama, 2.000 hektare seperti itu," paparnya.

Lebih lanjut, Amran mengatakan riset dan pembinaan petani ini bakal diarahkan pada komoditas-komoditas pangan strategis nasional. Sebut saja bawang putih, kedelai, tebu hingga komoditas-komoditas nan banyak diekspor seperti kakao hingga kopi.

"Pertama, padi sudah selesai. Jagung sudah swasembada untuk pakan. Ke depan kita konsentrasi kedelai, bawang putih, kakao, mete, tebu, dan seterusnya nan demand-nya tinggi tingkat bumi dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani dengan cepat," tutur Amran.

Ia menjelaskan nantinya pengembangan produktivitas pertanian ini bakal disesuaikan dengan komoditas unggulan di masing-masing wilayah. Dengan begitu hasil riset dan pembinaan dapat memberikan akibat nan lebih signifikan.

"Jadi kita menanam alias mengembangkan komoditas berasas kelebihan komparatif suatu tempat. Iklimnya agro-climate-nya cocok, budaya culture masyarakatnya oke, kita kembangkan di situ," ujarnya.

"Ya jika saya, jika mintanya saya ya minimal 5 ton (per hektare). Tapi jika 3-4 ton (per hektare) itu sudah bagus," tutur Amran.

BRIN Targetkan Produksi Bawang Putih RI Naik Jadi 35 Ton per Hektare

Dalam kesempatan nan sama, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan selama ini pihaknya telah menunjukkan hasil beragam macam riset di bagian pangan. Termasuk di antaranya pengembangan varietas-varietas pangan baru nan bisa mengatasi masalah perubahan iklim.

"Kita bakal memberikan support untuk tercapainya ketahanan pangan. Karena pangan tidak hanya soal padi, tapi pangan luas sekali, tidak hanya perkebunan, tapi juga hortikultura, tapi juga peternakan, dan dimensi pangan nan lainnya," ujar Arif.

Dalam perihal ini, BRIN ditargetkan bisa mengembangkan varietas alias sistem pertanian baru nan dapat meningkatkan hasil produksi bawang putih dalam negeri jadi 35 ton per hektare. Dengan begitu Indonesia dapat mengurangi impor bawang putih cukup signifikan.

"Ini kita ditargetkan untuk bisa produksi bawang putih itu 35 ton per hektare. Ini nomor nan fantastis, kita mau mengalahkan negara-negara lain nan sudah bisa menghasilkan 35 ton per hektare," tutur Arif.

Oleh karenanya kerja sama antara BRIN dengan Kementan mengenai pengembangan sektor pangan menjadi salah satu langkah krusial guna meningkatkan produksi sektor pangan nasional.

"Kita di BRIN tidak hanya di bagian pertanian, banyak bidang-bidang lain non-pertanian nan bisa mendukung pertanian. Baik untuk mesin pertanian, kemudian untuk AI, untuk bagian genomik nan bisa menghasilkan varietas-varietas nan lebih unggul dengan teknologi lebih canggih, kemudian juga untuk robotik dan kemudian juga untuk beragam smart farming nan memerlukan disiplin pengetahuan nan lebih luas lagi," paparnya.

"Oleh lantaran itu dengan kerjasama ini insyaallah ilmu-ilmu nan ada di BRIN, periset-periset nan ada di BRIN itu bisa kita kerahkan untuk mensupport suksesnya pembangunan pertanian di Indonesia," jelas Arif lagi.

(fdl/fdl)

Sumber finance