Mengenal Kategori Produk Olahan Susu: Dari Susu Cair Hingga Susu Kental Manis

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta -

Di rak minimarket alias supermarket, produk olahan susu datang dalam banyak bentuk. Ada susu pasteurisasi, susu UHT, susu bubuk, hingga susu kental manis. Meski sama-sama berasal dari susu, masing-masing produk mempunyai proses pengolahan, komposisi, serta karakter penggunaan nan berbeda.

Perbedaan tersebut membikin setiap produk punya kegunaan tersendiri, mulai dari dikonsumsi langsung hingga digunakan sebagai campuran makanan dan minuman. Karena itu, label dan kategori pada produk olahan susu biasanya disesuaikan dengan karakter serta tujuan penggunaannya.

Lalu, gimana sebenarnya kategori produk olahan susu dibedakan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Perbedaan Kategori Produk Olahan Susu dan Fungsinya

Produk olahan susu mempunyai kategori nan cukup beragam. Perbedaan tersebut umumnya ditentukan oleh proses pengolahan, komposisi, hingga tujuan penggunaannya dalam konsumsi sehari-hari.

1. Susu Pasteurisasi

Susu pasteurisasi merupakan susu nan dipanaskan pada suhu tertentu untuk membantu mengurangi mikroorganisme rawan tanpa menghilangkan karakter dasar susunya. Karena proses pemanasannya lebih ringan, susu pasteurisasi umumnya perlu disimpan pada suhu dingin sekitar 2-6 derajat Celsius dan mempunyai masa simpan relatif singkat, mulai dari beberapa hari hingga sekitar dua minggu tergantung proses dan kemasannya.

2. Susu UHT

Susu UHT (Ultra High Temperature) diproses pada suhu sangat tinggi dalam waktu singkat sehingga dapat memperkuat lebih lama dalam bungkusan tertutup. BPOM menjelaskan proses sterilisasi dan pengemasan aseptik membikin susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang sebelum dibuka. Dalam praktiknya, produk UHT umumnya mempunyai masa simpan beberapa bulan selama bungkusan tetap dalam kondisi baik dan belum dibuka.

3. Susu Bubuk

Susu serbuk dibuat melalui proses pengurangan kadar air dari susu hingga berbentuk bubuk. Kadar air nan lebih rendah membikin produk lebih praktis disimpan dan mempunyai daya simpan lebih panjang dibanding sebagian produk susu cair.

4. Susu Kental Manis

Menurut BPOM, susu kental manis (SKM) merupakan produk susu berbentuk cairan kental nan diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari susu dan ditambahkan gula. Produk ini umumnya mempunyai kadar lemak susu tertentu sesuai standar nan berlaku.

Dalam penggunaannya, susu kental manis lebih sering dimanfaatkan sebagai campuran makanan alias minuman, seperti topping roti, campuran kopi, hingga pelengkap dessert. Kandungan gula dan kadar air nan lebih rendah juga membikin produk mempunyai daya simpan relatif lebih panjang dalam bungkusan tertutup dibanding susu cair.

Secara umum, perbedaan kadar air, proses pemanasan, dan pengemasan menjadi aspek nan memengaruhi langkah penyimpanan masing-masing produk olahan susu. BPOM juga mengatur bahwa pangan olahan perlu mencantumkan petunjuk penyimpanan pada label bungkusan agar mutu dan keamanan produk tetap terjaga selama masa edar maupun setelah dibuka.

Susu kental manis.Susu kental manis. Foto: HIRA Imaji

Apakah Semua Produk Olahan Susu Termasuk UPF?

Belakangan, istilah ultra-processed food (UPF) semakin sering dibahas dalam topik kesehatan dan pola makan. Namun, dalam pengelompokkan NOVA, tidak semua produk olahan susu otomatis masuk kategori nan sama.

Sistem NOVA membagi pangan berasas tingkat pengolahannya, mulai dari minimally processed food, processed culinary ingredients, processed food, hingga ultra-processed food. Pada produk susu, kategorinya dapat berbeda tergantung proses pengolahan, komposisi, dan bahan tambahan nan digunakan.

Susu pasteurisasi dan susu UHT tanpa banyak tambahan bahan umumnya masuk kategori processed food lantaran tetap mempertahankan komponen dasar susu meski melalui proses pemanasan untuk keamanan pangan dan daya simpan.

Sementara itu, beberapa produk dengan formulasi lebih kompleks, termasuk produk dengan tambahan gula, perisa, pewarna, alias aditif lain, dapat masuk kategori ultra-processed food (UPF). Dalam pendekatan NOVA, susu kental manis umumnya termasuk dalam kategori ini lantaran mengandung tambahan gula dan melalui proses formulasi lebih lanjut dibanding susu cair biasa.

Meski begitu, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Purwiyatno Hariyadi, menilai suatu pangan sebaiknya tidak hanya dilihat dari ada alias tidaknya gula, garam, lemak, maupun bahan tambahan tertentu saja.

"Yang perlu dinilai bukan hanya apakah suatu produk mengandung gula, garam, lemak, alias bahan tambahan tertentu, tetapi juga seberapa besar kontribusinya terhadap total asupan harian. Prinsip nan sama bertindak pada komponen gizi nan berfaedah seperti protein, vitamin, dan mineral," ujarnya saat dihubungi detikcom, Kamis, (21/5/2026).

Menurutnya, pangan sebaiknya dinilai dalam konteks pola makan secara keseluruhan, termasuk porsi, gelombang konsumsi, serta keseimbangan dengan ragam pangan lain sehari-hari.

Ia menjelaskan, proses pengolahan pangan sendiri pada dasarnya juga dilakukan untuk beragam tujuan, mulai dari menjaga keamanan produk hingga memperpanjang daya simpan. Karena itu, penilaian terhadap suatu produk tidak bisa hanya dilihat dari tingkat pengolahannya saja.


(fti/up)

Sumber detik-health